Jumat, 25 September 2026

Jum’at Kelabu

​Jumat Kelabu

Gagak tua melintas bisu

di balik pias jendelaku

orang-orang pergi berkabung 

pada mereka yang telah gugur


kau tahu, bagaimana wujud duka itu?

ia seperti ranting rapuh

yang melapuk ditelan waktu 

kau tak akan sempat berlari, 

kau tak akan sempat sembunyi 

karena ia, lambat laun mengejarmu 

(mencarimu hingga di titik akhirmu)


kesedihan, penderitaan, 

kesengsaraan menjelma pekat, 

membuat langit menderu

membuat bau anyir di sekelilingmu

bak daging mentah membusuk,

(aku rasa itu hatiku, aku rasa begitu)

Kamis, 03 September 2026

Di sini,

​Manisku, 

aku menunggu,

pada detik-detik daun gugur, 

pada aroma tubuh yang diam-diam mengusik rindu.


aku menunggu,

pada langit mendung kelabu, 

pada rembulan yang malu

(karena kalah pada indahnya senyummu)


aku menunggu, 

entah hingga esok,

entah hingga ribuan windu,

atau hingga.,

jantungku berhenti berdegup.

Aku & Syair Kematian

​ketika kelak waktuku tiba 

malaikat pencabut nyawa menyapa 

tak perlu kau turut memandikan 

jasadku yang dingin profan

cukup kau singkapkan kafan perlahan 

pandang wajahku dalam senyuman 

lalu bacakan puisi-puisi kenangan 

yang pernah menggiring hidupku 

menuju sunyi alam kematian

Selasa, 25 Agustus 2026

Sabtu, 22 Agustus 2026

​This sadness is not something that can be allowed to linger for too long.

For almost a year now, I haven’t been able to sleep peacefully. I rely on medication just to numb a pain that somehow spreads from my heart, fills my head, and slowly takes over my entire body.

Today, I took four pills. After that, I told a friend that I couldn’t come to meet them because I was away on vacation. But the truth is, I was only shutting myself away. I couldn’t bear to face other people. I just wanted to disappear from the world for a while to become something that didn’t need to be seen, questioned, or expected to explain anything.

I feel like Gregor Samsa in Kafka’s The Metamorphosis,. trapped inside a body that no longer even feels like my own.

My weight keeps increasing, even though I feel like I barely eat anymore. Everything feels like the result of these fucking medications that are supposed to calm my heart and my mind, yet somehow only make me feel even more alienated from myself.

And out of everything that hurts, perhaps the saddest thing is feeling unseen. Feeling like I don’t matter. Failing. Watching everything I have poured all my strength into end up feeling meaningless.

Come on, I’m only twenty.

Why does life already feel this heavy?

Why did this horror come so soon?

The darkness seems to be slowly spreading through my entire body. It enters my head, sinks into my chest, and settles there as though it has no intention of ever leaving.

I’m still here, but it feels as though most of me disappeared a long time ago.

Broken me, as miserable as I am.


​Broken me, as miserable as I am.


Selasa, 18 Agustus 2026

 


One day my mother will call me her little girl again, and my father will finally notice the weight behind my smile.

The people I loved will finally learn how to stay.

And I will finally receive all the words i once prayed for.

They will say,

"She deserved more."

But by then, i will have become a star in the sky... close enough to be seen, too far away to be held.

Sabtu, 15 Agustus 2026

Di antara nadiku yang masih kujaga agar tak terputus


Mengapa gerangan aku dilahirkan,

ke bumi yang riuh namun terasa asing,
di antara hari yang terus berjalan,
sedang jiwaku kian letih dan genting?

Dadaku sesak menahan resah,
pikiranku penuh oleh ingatan
ingatan tentang luka yang tak kunjung sudah,
ingatan tentang pedih yang enggan berkesudah.

Aku telah menempuh segala daya,
aku telah berusaha

Maafkan aku, wahai jiwa,
jika hari ini aku begitu lemah

jika di tiap tiap harinya engkau berada di ambang kematian
aku penuh segala gundah.

kepalaku hampir pecah

Memori itu
masih menyala di dasar jiwa,
membakar perlahan setiap sudut rasa,
hingga aku lupa bagaimana cara untuk
percaya bahwa esok masih ada yang indah.

Aku tidak tahu
berapa lama lagi aku, sanggup bertahan,.
aku ingin mengadu, tapi aku tidak tahu. kepada siapa?

aku ingin memejamkan mataku dan tidur dalam waktu yang lama, lama hingga segala ingatanku tentang rasa sakit ini, memudar.

Rabu, 12 Agustus 2026

kepada sang kekasih

​Kekasihku,

jika kelak kau tiba

di penghujung perjalanan

dan menemukan tempatku berdiam, 

bawalah aku bersamamu.

Ke tempat yang cukup jauh, 

hingga riuh yang pernah membesarkanku 

larut perlahan dari ingatan,

hingga segala yang retak dalam diriku

menjadi samar,


Cintailah aku sesukamu,

sedalam samudra, seluas semesta, 

atau bahkan lebih dari yang sanggup kubayangkan. 

(maka akupun akan demikian)


Namun bila suatu hari

dunia memintamu untuk pergi dariku., 

(semoga hari itu tak pernah terjadi)

jangan berjalan menjauh.. sungguh.,

jangan biarkan yang terakhir kulihat adalah punggungmu., 


Sebab aku takkan sanggup, 

sebab, ada bagian-bagian dari diriku 

yang telah lama hilang, yang telah hancur.,

sehingga kelak, ketika engkau menemukanku 

(dan akupun menemukanmu)

engkau adalah satu-satunya tempatku berpulang.,

Sabtu, 08 Agustus 2026

Elegy

​Elegy

Hi, I’m Lira.

If one day someone were to read my writings, perhaps they would think that I have lived for far too long. That I am somehow older than the number printed on my identity card, or that experience carved the face of my soul long before it was meant to. But that is not true. It is not because they have fallen behind me; it is because I have spent too many years running, simply so I would not be the one left behind.

Since high school, I have worked in several shops. Between shifts, I attended organizational meetings; between meetings, I studied; and between all of those things, I quietly arranged my future with a precision that was almost indistinguishable from fear. I planned my life so carefully, as though one small mistake could bring the whole of my future down around me. Perhaps that is why people often think I have a plan for everything. What they do not see is that they are only looking at someone who has become too afraid to stop.

I love philosophy. Not because I wanted to become wise, but because I found myself there. Among sentences that speak of absurdity, silence, God, time, and suffering, I found something I had never found anywhere else: someone who understood why a chest can feel unbearably full even when no tears are falling.

I was born into a family that was comfortable enough. I was not deprived, at least not in the simplest sense of the word. And yet, for reasons I still cannot name, there was always an empty place upon my shoulders waiting to be filled with responsibility. I grew up believing that being useful was the only way to justify my existence. So I learned to work, to endure, to smile, and to hide my exhaustion so carefully that even I sometimes forgot I was tired.

The saddest part is that I never truly lived my youth. I did not enjoy my years at university. My mind was always arriving in the future before my body had even left the present. While my friends were learning how to love the day they were living, I was busy learning how to survive days that had not yet come. My thoughts moved twice as fast as my life, and little by little I lost the ability to simply be a twenty-one-year-old girl.

I wanted only one thing: to be seen, just once, as a young girl with all the ordinary joys that should belong to a girl her age. I wanted to go home without carrying the weight of tomorrow, to sit too long in a cheap café, to laugh until I forgot the hour, and not feel guilty for existing without being productive. It sounded like such a small wish, and yet somehow it felt impossible.

Last year was the year that changed the way my body remembers. Something terrible happened, and ever since then it has felt as though a stone has been living inside my chest. Strangely, the world did not stop. People kept greeting me as if nothing had happened, kept inviting me into conversations, kept believing that I was all right, as though I was not walking through my days carrying ruins within me. They believed my smile. They believed my laughter. How easily the world mistakes survival for happiness simply because someone is still capable of making a joke.

I do not know how much longer I can keep going. Sometimes it feels as though the organs inside my body have begun to rebel, as though they surrendered before my mind ever did. There are mornings when waking up feels like lifting the remains of a house that collapsed long ago, and even breathing seems to require a kind of courage that no one ever teaches.

If I am allowed to be honest, there are moments when I wish I had never been born. Not because I hate life entirely, but because I have become too tired of carrying it. And if there is another life beyond this one, I ask for only one thing: may I be given a gentler life. A life that does not ask a young girl to spend so many years running merely to feel worthy of existing in the world.

Tonight I do not long for victory. I do not long for recognition. I do not want anyone to applaud everything I have survived. I only want to place my entire future on the floor, sit beside it, and for the first time in my life, not have to become anything at all.

I am tired.


​-

Tahun lalu
sebuah malapetaka
melintas di dalam hidupku.

Akan tetapi “mereka”
tetap hidup
seolah aku tidak apa-apa,
seolah peristiwa itu
tidak pernah terjadi,
seolah aku tidak sedang
membawa reruntuhan
di dalam dadaku.

Mereka percaya
kepada senyumku.

Mereka tertipu
oleh tawaku.


Tahun lalu
sesuatu di dalam diriku mati.

namun aneh sekali,
pemakamannya hanya dihadiri oleh aku.


Jumat, 07 Agustus 2026

A Shadow Man

​Lelaki bayangan 

Ia hidup dalam memoriku
berputar seperti kaset usang
yang kusimpan rapat di dasar peti,
dikubur debu oleh musim,

Empat bulan adalah sebuah negeri kecil
yang diam-diam kita bangun dari langkah
(sembunyi, perlahan, namun menggebu)

Engkau selalu ada
di ujung halaman lengang,
di bangku kota ponorogo yang dingin
seolah kehadiranmu adalah doaku
yang tidak pernah selesai diucapkan.

Namun rumahmu dijaga ayat-ayat,
dan keluargamu menyalakan langit
dengan iman yang begitu tegak.

Di hadapanmu aku hanyalah perempuan
yang membawa terlalu banyak dosa di telapak tangan,
terlalu banyak masa lalu di kelopak mata,
terlalu banyak malam yang tak mungkin
diperkenalkan kepada ibumu.

Maka kita saling mencintai seperti para penyelundup
mungkin,.
atau hanya aku yang menyimpan namamu dalam saku yang paling dalam,
membiarkan dunia mengenal kita
sebagai dua orang asing dalam kebetulan

Aku tak pernah tahu
apakah engkau pernah mencintaiku.
Barangkali engkau hanya takut kehilangan Tuhan.,
dengan menggenggam tanganku.
Barangkali aku pun tak pernah tahu
apakah yang kurasakan adalah cinta,
atau hanya kesunyian yang menemukan wajahmu

lalu,
Kita berdua diam,
bersembunyi
di balik dada yang tetap berpura-pura utuh.

Engkau tak pernah mencintaiku
sebagaimana aku ingin dicintai
tanpa takut, kepada silsilah dan penghakiman.
Aku menunggumu menjadi berani,
namun itu tak pernah terjadi.

Kini yang tersisa hanyalah bayangmu,
lelaki yang hidup di lorong ingatanku,

Dan suatu hari nanti
engkau akan lenyap seperti salah satu mimpiku yang paling indah,
yang akhirnya pudar oleh waktu.

dan,
Aku pun akan melupakanmu
seperti engkau melupakanku
selamanya.


Kamis, 30 Juli 2026

my (fucking) favorite part about my life

​I was born as a mistake someone kept trying to correct.

My parents’ voices still live inside my head,
returning in echoes
I never invited back.

Too often,
I have felt less like a daughter
and more like a fragile investment
something expected to grow,
to yield,
to repay.

Sometimes I wonder
if I had arrived a little earlier,
or a little later,
would I still have chosen
to be born at all?

I don’t know.

Some of my dreams died quietly,
not because I lacked the ability,
but because I was told
I did not need them.

I earned a degree
on a full scholarship.
I collected trophies,
won competitions,
filled folders with certificates,
and carried my achievements
like proof that I deserved
to take up space.

Still,
it was never enough.

I do not know,
as a daughter,
where the finish line of “enough”
is supposed to be.

So I kept running.

I have always been running.

Chasing the things
that are ordinary privileges
for some people,
but for me
were distances I had to survive
just to stop feeling
left behind.

Again and again,
my heart broke in silence.

And perhaps the cruelest part is this
I have always believed
that I am not allowed to fail.

Because I am
their firstborn daughter.


Sabtu, 25 Juli 2026

Tuhan dan Kebuntuan Berpikir

​Ada saat-saat ketika manusia tidak sedang kehilangan keyakinan terhadap Tuhan, melainkan kehilangan kemampuan untuk memahami dunia. Di titik itulah pikiran memasuki ruang yang dipenuhi pertanyaan, tetapi bahkan nyaris tidak memiliki jawaban.


Dalam beberapa waktu aku selalu bertanya-tanya perihal Mengapa seseorang harus lahir di tengah kemiskinan, sementara yang lain mewarisi segala kemudahan? Mengapa ada mereka yang bekerja seumur hidup tanpa pernah keluar dari lingkaran penderitaan, sementara sebagian lainnya memperoleh kekuasaan yang cukup untuk merampas hak hidup jutaan orang melalui korupsi, tetapi tetap dapat tidur dengan tenang?


Dalam kebuntuan semacam itu, aku sebagai manusia sering kali mencari seseorang untuk dipersalahkan. Dan tidak jarang, nama pertama yang muncul adalah Tuhan.


Barangkali karena isi kepalaku lebih mudah mempertanyakan Sang Pencipta daripada menerima bahwa dunia memang tidak pernah dibangun di atas garis yang sama. Maka lahirlah berbagai pertanyaan yang telah menghantui manusia sejak ribuan tahun silam “jika Tuhan Maha kuasa, mengapa ketidakadilan tetap ada?Jika Tuhan Maha adil, mengapa nasib dibagikan dengan cara yang tampak begitu timpang? Jika Tuhan Maha baik, mengapa penderitaan sering kali justru menimpa mereka yang tampaknya paling tidak pantas menerimanya?”


Kebuntuan dalam berpikir semacam ini membuatku khawatir bahwa aku telah cacat secara akal, lalu sebisa mungkin aku mencari jawaban, lagi dan lagi, aku membuka buku-buku ku, mencari buku-buku filsafat usang di tumpukan rak perpus kota lama, dan aku kembali berpikir, 


Sehingga dalam pemikiranku, aku mulai mempertimbangkan kembali, jika suatu hari dunia ini benar-benar menjadi tempat yang sepenuhnya adil, tidak ada lagi kemiskinan, kelaparan, perang, pengkhianatan, atau ketimpangan., setiap manusia lahir dengan kesempatan yang sama, memperoleh kebahagiaan yang sama, dan tak seorang pun memiliki alasan untuk berbuat jahat, apakah kita masih akan memerlukan Tuhan?


Ataukah justru dalam dunia yang demikian, manusia akan menganggap dirinya telah cukup? Bahwa akal, hukum, dan peradaban telah berhasil mengambil alih seluruh peran yang selama ini disandarkan kepada-Nya?


Atau mungkin pertanyaannya harus dibalik.


Selama ini, apakah yang kita cari dari Tuhan adalah kebenaran… atau sekedar tempat untuk meletakkan semua hal yang gagal dijelaskan oleh akal?


Lalu, ketika akal suatu hari merasa telah mampu menjelaskan segalanya, kepada siapa manusia akan bertanya?


dering telfonku berbunyi, di akhir halaman buku, aku menutupnya rapat, sembari menutup mataku, akan hal-hal yang nantinya membuatku hanyut lebih dalam. (dunia berjalan seperti biasa, dan manusia masih dengan keserakahan dan ambisinya masing-masing).,

Jum’at Kelabu

​ Jumat Kelabu Gagak tua melintas bisu di balik pias jendelaku orang-orang pergi berkabung  pada mereka yang telah gugur kau tahu, bagai...