Kamis, 30 Juli 2026

my (fucking) favorite part about my life

I was born as a mistake someone kept trying to correct.

My parents’ voices still live inside my head,
returning in echoes
I never invited back.

Too often,
I have felt less like a daughter
and more like a fragile investment
something expected to grow,
to yield,
to repay.

Sometimes I wonder
if I had arrived a little earlier,
or a little later,
would I still have chosen
to be born at all?

I don’t know.

Some of my dreams died quietly,
not because I lacked the ability,
but because I was told
I did not need them.

I earned a degree
on a full scholarship.
I collected trophies,
won competitions,
filled folders with certificates,
and carried my achievements
like proof that I deserved
to take up space.

Still,
it was never enough.

I do not know,
as a daughter,
where the finish line of “enough”
is supposed to be.

So I kept running.

I have always been running.

Chasing the things
that are ordinary privileges
for some people,
but for me
were distances I had to survive
just to stop feeling
left behind.

Again and again,
my heart broke in silence.

And perhaps the cruelest part is this
I have always believed
that I am not allowed to fail.

Because I am
their firstborn daughter.


Sabtu, 25 Juli 2026

Tuhan dan Kebuntuan Berpikir

Ada saat-saat ketika manusia tidak sedang kehilangan keyakinan terhadap Tuhan, melainkan kehilangan kemampuan untuk memahami dunia. Di titik itulah pikiran memasuki ruang yang dipenuhi pertanyaan, tetapi bahkan nyaris tidak memiliki jawaban.


Dalam beberapa waktu aku selalu bertanya-tanya perihal Mengapa seseorang harus lahir di tengah kemiskinan, sementara yang lain mewarisi segala kemudahan? Mengapa ada mereka yang bekerja seumur hidup tanpa pernah keluar dari lingkaran penderitaan, sementara sebagian lainnya memperoleh kekuasaan yang cukup untuk merampas hak hidup jutaan orang melalui korupsi, tetapi tetap dapat tidur dengan tenang?


Dalam kebuntuan semacam itu, aku sebagai manusia sering kali mencari seseorang untuk dipersalahkan. Dan tidak jarang, nama pertama yang muncul adalah Tuhan.


Barangkali karena isi kepalaku lebih mudah mempertanyakan Sang Pencipta daripada menerima bahwa dunia memang tidak pernah dibangun di atas garis yang sama. Maka lahirlah berbagai pertanyaan yang telah menghantui manusia sejak ribuan tahun silam “jika Tuhan Maha kuasa, mengapa ketidakadilan tetap ada?Jika Tuhan Maha adil, mengapa nasib dibagikan dengan cara yang tampak begitu timpang? Jika Tuhan Maha baik, mengapa penderitaan sering kali justru menimpa mereka yang tampaknya paling tidak pantas menerimanya?”


Kebuntuan dalam berpikir semacam ini membuatku khawatir bahwa aku telah cacat secara akal, lalu sebisa mungkin aku mencari jawaban, lagi dan lagi, aku membuka buku-buku ku, mencari buku-buku filsafat usang di tumpukan rak perpus kota lama, dan aku kembali berpikir, 


Sehingga dalam pemikiranku, aku mulai mempertimbangkan kembali, jika suatu hari dunia ini benar-benar menjadi tempat yang sepenuhnya adil, tidak ada lagi kemiskinan, kelaparan, perang, pengkhianatan, atau ketimpangan., setiap manusia lahir dengan kesempatan yang sama, memperoleh kebahagiaan yang sama, dan tak seorang pun memiliki alasan untuk berbuat jahat, apakah kita masih akan memerlukan Tuhan?


Ataukah justru dalam dunia yang demikian, manusia akan menganggap dirinya telah cukup? Bahwa akal, hukum, dan peradaban telah berhasil mengambil alih seluruh peran yang selama ini disandarkan kepada-Nya?


Atau mungkin pertanyaannya harus dibalik.


Selama ini, apakah yang kita cari dari Tuhan adalah kebenaran… atau sekedar tempat untuk meletakkan semua hal yang gagal dijelaskan oleh akal?


Lalu, ketika akal suatu hari merasa telah mampu menjelaskan segalanya, kepada siapa manusia akan bertanya?


dering telfonku berbunyi, di akhir halaman buku, aku menutupnya rapat, sembari menutup mataku, akan hal-hal yang nantinya membuatku hanyut lebih dalam. (dunia berjalan seperti biasa, dan manusia masih dengan keserakahan dan ambisinya masing-masing).,

Jumat, 17 Juli 2026

Kae

Kae,

Akhirnya kamu menikah. Sebenarnya itu bukan sesuatu yang mengejutkan, karena jauh sebelumnya aku sudah mengetahui kabar itu. Bahkan sekarang, pernikahanmu sudah berjalan satu tahun lebih. Entah mengapa, malam ini aku kembali teringat.

Aku tidak bermaksud menjadi perempuan yang tidak tahu batas dengan merindukan seseorang yang kini telah menjadi milik perempuan lain. Bukan seperti itu. Mungkin hanya ada kenangan yang belum sempat benar-benar berpamitan, dan malam ini ia datang mengetuk sekali lagi.

Selamat ya, Kae. Selamat atas kenaikan pangkatmu sebagai mayor, dan Selanag atas pernikahanmu, Semoga pernikahanmu selalu dipenuhi kebahagiaan, ketenangan, dan hal-hal baik yang selama ini kamu harapkan. Aku masih memahami batasanku, karena itu aku hanya berani menuliskan semua ini di sini.

Ada banyak hal yang telah hilang dalam hidupku, kae. Namun, ada satu hal yang masih kuingat dengan sangat jelas, saat kamu menggenggam tanganku dan berkata, “Hidup akan baik-baik saja, dan kita akan bisa melaluinya.” Kalimat itu pernah, bahkan berkali-kali, menjadi kekuatan di masa-masa paling sulit dalam hidupku.

Kadang aku masih tersenyum kecil ketika mengingat kita (sebagai teman) pernah begitu keras kepala. Kamu pernah berkata bahwa sebagai istri seorang perwira aku tidak boleh lagi membaca buku-bukuku. Kamu juga pernah menentang keinginanku untuk mendirikan sekolah rakyat. Lucu ya, Kae. Sekarang justru aku semakin aktif di dunia pendidikan, koleksi buku-buku sayap kiriku yang dulu sering kamu protes semakin banyak, dan sebentar lagi aku akan lulus kuliah dalam tiga setengah tahun (semoga begitu).

Mungkin hidup memang punya caranya sendiri untuk membawa seseorang ke tempat yang tidak pernah ia bayangkan.

Tiga tahun terakhir hidupku terasa seperti terseret ombak di lautan yang sangat dalam. Kamu tahu betul aku tidak bisa berenang. Tapi, Kae, aku berhasil melewatinya. Mungkin tidak dengan sempurna, tetapi aku sampai di seberang.

Terima kasih. Terima kasih pernah hadir di salah satu bagian hidupku, dan terima kasih untuk kalimat sederhana yang tanpa kamu sadari pernah menyelamatkanku berkali-kali.

Maaf karena telah mengingatmu, maaf telah lancang (kita sudah lost contact sejak awal berpisah, jadi tenang saja teman-teman, aku tidak berniat lancang mencari perhatian jodoh orang haha).

Semoga kamu dan istrimu selalu berbahagia, saling menjaga, diberi kesehatan, umur yang panjang, dan rumah tangga yang penuh keberkahan.

Bahagialah selalu, Kae.


​ What if you don’t have a mother to come home to?