Kamis, 25 Juni 2026

di sebagian duka

Pada akhirnya, kau sama saja seperti mereka.

Mereka yang memandang hidupku dari kejauhan, lalu merasa berhak menjatuhkan putusan atas luka-luka yang tak pernah mereka tanggung.

Bedanya, mereka tidak tahu.

Sedangkan kau tahu.

Kau tahu betapa panjang malam-malam yang harus kulewati seorang diri. Kau tahu betapa sering aku berunding dengan diriku sendiri hanya untuk bertahan sampai esok hari. Kau tahu berapa banyak pil yang kutelan agar kepalaku tidak sepenuhnya tenggelam dalam kegelapan. Kau tahu bagaimana suaraku pecah oleh tangis ketika tak ada seorang pun yang tinggal untuk mendengarkan.

Kau tahu semuanya.

Dan mungkin itulah yang paling menyedihkan.

Sebab luka yang diberikan orang asing hanya melukai permukaan. Namun luka yang datang dari seseorang yang mengetahui seluruh cerita hidupku akan menetap jauh lebih dalam. 

(diam-diam berakar di tempat yang tak dapat dijangkau siapa pun.)

Ada masanya aku mengira pengetahuanku tentangmu akan membuatku lebih mudah memaafkan perilaku burukmu kepadaku. Namun semakin lama aku menyadari bahwa yang sulit untuk kuterima bukanlah kepergianmu, melainkan kenyataan bahwa kau pergi setelah mengetahui segalanya.

Setelah menyaksikan betapa kerasnya aku berusaha tetap hidup.

Setelah mengetahui berapa kali aku jatuh.

Setelah memahami betapa sepinya perjalanan yang harus kutempuh.

Dan tetap saja, kau memilih tidak berada di sisiku.

Kadang aku berpikir, seandainya aku tidak megenalmu, seandainya aku tidak perlu menggantung harapanku pada langit langit cintamu, seandainya aku tidak melihatkan retakku dan kau tidak pernah mengetahui semua itu, mungkin aku tidak akan sekecewa ini.

Namun kau tahu.

Kau tahu, lalu tetap meninggalkanku pada musim paling dingin dalam hidupku.

Maka kelak, ketika namamu datang kembali ke dalam ingatan, aku tidak akan mengenangmu sebagai seseorang yang pernah kucintai dengan begitu besar.

Aku akan mengenangmu sebagai seseorang yang pernah melihat seluruh reruntuhanku dari dekat, mendengar seluruh kisah dukaku hingga tuntas, lalu berbalik pergi seolah semua itu bukan apa-apa.

Aku akan mengingatnya.

Seumur hidupku. Bukan karena aku masih mencintaimu, melainkan karena aku pernah begitu percaya bahwa seseorang yang mengetahui seluruh penderitaanku tidak akan meninggalkanku sendirian di dalamnya. Namun aku ternyata keliru. Dan beberapa kekeliruan, sekali terjadi, akan tinggal bersama kita sepanjang usia.


Senin, 01 Juni 2026

di ujung diriku

Aku bahagia,

bila umurku tak panjang, aku takkan menyesal,

sebab aku telah menulis diriku, 

sebab aku telah mengenal diriku, 

di antara deru nafas bumi. 

di tengah lirih paling sunyi,

aku berharap pada semesta 

bila nanti aku telah tiada 

meski ragaku lenyap entah bagaimana 

semoga aksara - aksaraku menetap, 

dalam ruang ruang hampa penuh kerinduan

ia akan menjadi saksi,

bahwa aku pernah berada di sini., 

Di bawah mentari, 

aku mulai melangkah pergi, 

menuju sesuatu.,

yang tak pernah kumengerti,

Senin, 02 Maret 2026

“mengapa engkau tidak melonte saja (?)”

ah, jangankan melonte.

aku saja jijik pada tubuhku setiap kali bercermin.


jujur saja,

terkadang aku membenci tubuhku.,

lipatan lemak yang menelan jemariku.,

ukuran besar pada buah dada 

yang memberatkan aktivitasku

dan aura yang membuat diriku terlihat lebih tua ketimbang umur asliku


suatu waktu aku menatapnya di cermin kamarku

tanpa sehelaipun kain yang membuatnya terlihat jelas betapa buruk


menimbang setiap lekuk,

setiap noda.,

setiap dosa.,

pada telanjangnya diriku

seakan dunia menandai betapa kurangnya aku.


lalu aku akan berkata pada sang kekasih,

mau kah kau bercinta denganku? 

tanpa memandang bagaimana tubuhku?

masihkah kau nafsu meniduri aku?

yang penuh luka sayat hidup yang jenuh?

Jumat, 13 Februari 2026

Selamat Ulang Tahun, Manisku.

Waktu berjalan perlahan,

meneteskan detik dengan suara yang hampir tak terdengar.


Namun manisku,

entah mengapa ingatanku kian hari kian memudar.Tanggal-tanggal jatuh seperti dedaunan.yang tak sempat kusimpan di buku harian.

begitu cepat ia berlalu, atau aku yang telah mudah melupakan segala sesuatu.


aku melupakan hari ketika aku hadir di bumi, atau bahkan hari dimana semesta menghadirkan anugerah seindah kamu selang beberapa waktu kehadiranku.


dan berkali-kali aku bertanya pada langit mendung, tentang 

“hari apa saat ini?” atau

“tanggal berapa hari ini?”


Seolah-olah tanggalan menjadi hilang di telan ingatan.

hanya ada namamu, yang bersemayam di dadaku.


Tanpamu, hari-hari terasa begitu cepat melesat. tiba-tiba senja, tiba-tiba malam, tiba-tiba aku menangis, meraba-raba kapan semesta menjadi baik, menghadirkan dirimu untuk memenuhi seluruh ruang di hatiku.


selamat ulang tahun manisku,

dan aku. 

Selasa, 03 Februari 2026

Gerhana dan Angan

ia lahir dari bisu langit 

indah sekaligus menggoda,

sekilas cahaya yang terguncang

antara menyembunyikan dan menyingkap,


aku menatapnya dari jarak yang tak terjangkau

sembari menari diantara bayangannya,

menyulam sisa sisa terang yang terbuang,

menghela nafas seakan waktu tak bernaung


barangkali, ia melihatku 

memelukku, dan menatapku jauh, 

lebih dalam..


namun nampaknya, tatapnya tak jatuh padaku 

ada tatapan lain yang ia sembunyikan,

entah pada gelap yang merangkulnya,

atau pada cahaya yang perlahan ditinggalkannya.

belum ada judul

aku telanjang tanpa busana

berayun ayun dipojok istana 

menanti tuan yang pergi dikala senja 

dikala mentari sedang cantik cantiknya


sentuhan itu menjarah tubuhku

jantungku kaku tertunduk melesuh

kakiku lumpuh berusaha menjauh

namun jari jemariku tetap berusaha menggapaimu 

menggapai cinta yang tak pernah bersemayam dalam diriku.,

Senin, 26 Januari 2026

kau, kasihku..


aku,

berdiri di sudut kota tempatmu berada,

berharap takdir mempertemukan

 “kau dan aku” 

kembali..

hingga sisa-sisa harapku

yang compang-camping,

menantimu di sini..


sekali,

puluhan kali,

ratusan,

hingga ribuan kali..


namun, kau tak pernah ada,

bahkan bayangmu pun enggan menampakkan diri..

menemui sorot mata wanita bodoh yang mencari kemana arahmu berlari.


sayangku,

aku tak ingin melupa bola matamu,

tak ingin melupa senyummu,

atau bagaimana kecupan itu..

jatuh perlahan, tepat di atas keningku.


namun sayangku, 

di antara seluruh doa yang pernah kupanjatkan,

aku berharap agar Tuhan tak pernah mempertemukan

kau dan aku.

di sebagian duka

​ Pada akhirnya, kau sama saja seperti mereka. Mereka yang memandang hidupku dari kejauhan, lalu merasa berhak menjatuhkan putusan atas luk...