Kamis, 31 Juli 2025

Lara dan Kucing kecil (dalam gugatan)

seekor kucing kecil

duduk diam di sudut jalan

bulu lusuh, mata menanti.

sembari berharap agar dunia sedikit lebih lunak..

pada makhluk yang tak sempat memilih nasib.

dan di seberang jaln,

seorang gadis menatap langit

dengan mata lembab, akibat terlalu sering basah.

ia bicara,

pada keheningan

yang tak pernah menjawab dan, mengobati lukanya..

“aku kalah.”

“permainan ini tak adil sedari awal.

Tuhan, mungkin, bermain dadu.

dan aku, aku hanya figuran

dalam naskah yang tak pernah kumengerti.

diberi mimpi,

tapi tak pernah diberi harap untuk sampai.”

lalu ia berbicara, lagi dan lgi

seolah langit menyimak, pengakuannya

“aku kalah

pada mereka yang lahir sempurna,

yang tak pernah tahu apa itu kehilangan,

yang tak perlu berperang

hanya untuk merasa bernilai.”

“aku kalah

pada wajah-wajah yang dicintai tanpa alasan,

pada harta yang menjelma jawaban,

pada dunia yang membentuk hierarki

bahkan sebelum aku bisa berkata siapa diriku sebenarnya.”

dan pada akhirnya,

apakah yang lahir dari kekurangan

diberi tempat di dunia ini,

selain sebagai pelengkap duka,

penanda batas,

atau kisah yang dikasihani

sebelum dilupakan kembali?

kucing itu pun beranjak

berlari menuju tangan

yang dingin, kaku,

dan

tak akan pernah bergerak lagi.

dan gadis itu,

telah selesai.

bukan hanya hidup,

tapi pertanyaan pertanyaan yang membuat ia gundah,,

tentang mengapa keberadaannya terasa seperti hukuman

yang tak pernah diputuskan bersama.

1 komentar:

“mengapa engkau tidak melonte saja (?)”

ah, jangankan melonte. aku saja jijik pada tubuhku setiap kali bercermin. ​ jujur saja, terkadang aku membenci tubuhku., lipatan lemak yang ...