Sabtu, 24 Mei 2025

Surat untuk tuhan

Tuhan,

semua berlarian ke arah-Mu

menyebut nama-Mu dalam tangis,

dalam harap,

dalam tunduk yang kadang tak mereka mengerti.

Namun aku,

aku memilih menjauh.

aku membencimu.

aku tak ingin lagi memahami bagaimana aturan takdirmu.

Mengapa Engkau menutup mata

mengapa engkau begitu buta?

atas derita yang begitu nyata?

Mengapa Engkau tuli?

mengapa engkau menutup telinga?

atas tangis umatmu yang menjadi sunyi

seakan akan luka menjadi pelajaran hidup yang tak mampu di mengerti.

Tuhan

Semua Kau perhitungkan di akhirat.

lalu, untuk apa kehidupan?

jika keadilan hanya akan hadir setelah kematian?

Apakah kami hidup hanya untuk diuji?

lalu mati untuk diadili?

betapa sialnya, roh” yang memilih untuk hidup di dunia bajingan ini?

Bagaimana dengan mereka yang tersungkur?

betapa tak adilnya.

Tuhan,

Jika engkau memilih untuk buta, tuli dan lumpuh terhadap jeritan umatmu

maka aku memilih membalas dendamku diatas heningmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

“mengapa engkau tidak melonte saja (?)”

ah, jangankan melonte. aku saja jijik pada tubuhku setiap kali bercermin. ​ jujur saja, terkadang aku membenci tubuhku., lipatan lemak yang ...