Kucing kecil..
duduk diam,
di sudut jalan
bulu lusuh, mata menanti
dengan harap,
dengan berat hati
ia melangkah pergi,
dan di sisi pojok,
seorang gadis menangis
dengan tragis
ia menatap langit
dan mengakui
”aku kalah”
tak sekalipun permainan ini, aku menangkan,
“tuhan bermain dadu! dan aku hanya mendapat peran sebagai pembantu!, yang bermimpi mengubah takdir”
dan sekali lagi gadis itu meratap,
langit, aku kalah,,
pada mereka yang lahir sempurna
yang tak pernah tahu arti kehilangan
tak pernah risau tentang harga hidup
langit, aku kalah,,
pada wajah yang mudah dicintai,
pada harta yang membuka semua pintu,
pada hal-hal yang membuatku
merasa kecil,
dan tak layak,
dan aku tak tahu,
apakah yang lahir dari kekurangan
belas kasih,
atau, ditinggalkan
lagi, lagi dan lagi.
kucing itu berlari,
pada sayup jemari,
yang, tak pernah bergerak lagi,
gadis itu, tlah mati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar