Sabtu, 25 Juli 2026

Tuhan dan Kebuntuan Berpikir

Ada saat-saat ketika manusia tidak sedang kehilangan keyakinan terhadap Tuhan, melainkan kehilangan kemampuan untuk memahami dunia. Di titik itulah pikiran memasuki ruang yang dipenuhi pertanyaan, tetapi bahkan nyaris tidak memiliki jawaban.


Dalam beberapa waktu aku selalu bertanya-tanya perihal Mengapa seseorang harus lahir di tengah kemiskinan, sementara yang lain mewarisi segala kemudahan? Mengapa ada mereka yang bekerja seumur hidup tanpa pernah keluar dari lingkaran penderitaan, sementara sebagian lainnya memperoleh kekuasaan yang cukup untuk merampas hak hidup jutaan orang melalui korupsi, tetapi tetap dapat tidur dengan tenang?


Dalam kebuntuan semacam itu, aku sebagai manusia sering kali mencari seseorang untuk dipersalahkan. Dan tidak jarang, nama pertama yang muncul adalah Tuhan.


Barangkali karena isi kepalaku lebih mudah mempertanyakan Sang Pencipta daripada menerima bahwa dunia memang tidak pernah dibangun di atas garis yang sama. Maka lahirlah berbagai pertanyaan yang telah menghantui manusia sejak ribuan tahun silam “jika Tuhan Maha kuasa, mengapa ketidakadilan tetap ada?Jika Tuhan Maha adil, mengapa nasib dibagikan dengan cara yang tampak begitu timpang? Jika Tuhan Maha baik, mengapa penderitaan sering kali justru menimpa mereka yang tampaknya paling tidak pantas menerimanya?”


Kebuntuan dalam berpikir semacam ini membuatku khawatir bahwa aku telah cacat secara akal, lalu sebisa mungkin aku mencari jawaban, lagi dan lagi, aku membuka buku-buku ku, mencari buku-buku filsafat usang di tumpukan rak perpus kota lama, dan aku kembali berpikir, 


Sehingga dalam pemikiranku, aku mulai mempertimbangkan kembali, jika suatu hari dunia ini benar-benar menjadi tempat yang sepenuhnya adil, tidak ada lagi kemiskinan, kelaparan, perang, pengkhianatan, atau ketimpangan., setiap manusia lahir dengan kesempatan yang sama, memperoleh kebahagiaan yang sama, dan tak seorang pun memiliki alasan untuk berbuat jahat, apakah kita masih akan memerlukan Tuhan?


Ataukah justru dalam dunia yang demikian, manusia akan menganggap dirinya telah cukup? Bahwa akal, hukum, dan peradaban telah berhasil mengambil alih seluruh peran yang selama ini disandarkan kepada-Nya?


Atau mungkin pertanyaannya harus dibalik.


Selama ini, apakah yang kita cari dari Tuhan adalah kebenaran… atau sekedar tempat untuk meletakkan semua hal yang gagal dijelaskan oleh akal?


Lalu, ketika akal suatu hari merasa telah mampu menjelaskan segalanya, kepada siapa manusia akan bertanya?


dering telfonku berbunyi, di akhir halaman buku, aku menutupnya rapat, sembari menutup mataku, akan hal-hal yang nantinya membuatku hanyut lebih dalam. (dunia berjalan seperti biasa, dan manusia masih dengan keserakahan dan ambisinya masing-masing).,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

​ What if you don’t have a mother to come home to?