Jumat, 17 Juli 2026

Kae

​Kae,

Akhirnya kamu menikah. Sebenarnya itu bukan sesuatu yang mengejutkan, karena jauh sebelumnya aku sudah mengetahui kabar itu. Bahkan sekarang, pernikahanmu sudah berjalan satu tahun lebih. Entah mengapa, malam ini aku kembali teringat.

Aku tidak bermaksud menjadi perempuan yang tidak tahu batas dengan merindukan seseorang yang kini telah menjadi milik perempuan lain. Bukan seperti itu. Mungkin hanya ada kenangan yang belum sempat benar-benar berpamitan, dan malam ini ia datang mengetuk sekali lagi.

Selamat ya, Kae. Selamat atas kenaikan pangkatmu sebagai mayor, dan Selanag atas pernikahanmu, Semoga pernikahanmu selalu dipenuhi kebahagiaan, ketenangan, dan hal-hal baik yang selama ini kamu harapkan. Aku masih memahami batasanku, karena itu aku hanya berani menuliskan semua ini di sini.

Ada banyak hal yang telah hilang dalam hidupku, kae. Namun, ada satu hal yang masih kuingat dengan sangat jelas, saat kamu menggenggam tanganku dan berkata, “Hidup akan baik-baik saja, dan kita akan bisa melaluinya.” Kalimat itu pernah, bahkan berkali-kali, menjadi kekuatan di masa-masa paling sulit dalam hidupku.

Kadang aku masih tersenyum kecil ketika mengingat kita (sebagai teman) pernah begitu keras kepala. Kamu pernah berkata bahwa sebagai istri seorang perwira aku tidak boleh lagi membaca buku-bukuku. Kamu juga pernah menentang keinginanku untuk mendirikan sekolah rakyat. Lucu ya, Kae. Sekarang justru aku semakin aktif di dunia pendidikan, koleksi buku-buku sayap kiriku yang dulu sering kamu protes semakin banyak, dan sebentar lagi aku akan lulus kuliah dalam tiga setengah tahun (semoga begitu).

Mungkin hidup memang punya caranya sendiri untuk membawa seseorang ke tempat yang tidak pernah ia bayangkan.

Tiga tahun terakhir hidupku terasa seperti terseret ombak di lautan yang sangat dalam. Kamu tahu betul aku tidak bisa berenang. Tapi, Kae, aku berhasil melewatinya. Mungkin tidak dengan sempurna, tetapi aku sampai di seberang.

Terima kasih. Terima kasih pernah hadir di salah satu bagian hidupku, dan terima kasih untuk kalimat sederhana yang tanpa kamu sadari pernah menyelamatkanku berkali-kali.

Maaf karena telah mengingatmu, maaf telah lancang (kita sudah lost contact sejak awal berpisah, jadi tenang saja teman-teman, aku tidak berniat lancang mencari perhatian jodoh orang haha).

Semoga kamu dan istrimu selalu berbahagia, saling menjaga, diberi kesehatan, umur yang panjang, dan rumah tangga yang penuh keberkahan.

Bahagialah selalu, Kae.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jum’at Kelabu

​ Jumat Kelabu Gagak tua melintas bisu di balik pias jendelaku orang-orang pergi berkabung  pada mereka yang telah gugur kau tahu, bagai...