Lelaki bayangan
Ia hidup dalam memoriku
berputar seperti kaset usang
yang kusimpan rapat di dasar peti,
dikubur debu oleh musim,
Empat bulan adalah sebuah negeri kecil
yang diam-diam kita bangun dari langkah
(sembunyi, perlahan, namun menggebu)
Engkau selalu ada
di ujung halaman lengang,
di bangku kota ponorogo yang dingin
seolah kehadiranmu adalah doaku
yang tidak pernah selesai diucapkan.
Namun rumahmu dijaga ayat-ayat,
dan keluargamu menyalakan langit
dengan iman yang begitu tegak.
Di hadapanmu aku hanyalah perempuan
yang membawa terlalu banyak dosa di telapak tangan,
terlalu banyak masa lalu di kelopak mata,
terlalu banyak malam yang tak mungkin
diperkenalkan kepada ibumu.
Maka kita saling mencintai seperti para penyelundup
mungkin,.
atau hanya aku yang menyimpan namamu dalam saku yang paling dalam,
membiarkan dunia mengenal kita
sebagai dua orang asing dalam kebetulan
Aku tak pernah tahu
apakah engkau pernah mencintaiku.
Barangkali engkau hanya takut kehilangan Tuhan.,
dengan menggenggam tanganku.
Barangkali aku pun tak pernah tahu
apakah yang kurasakan adalah cinta,
atau hanya kesunyian yang menemukan wajahmu
lalu,
Kita berdua diam,
bersembunyi
di balik dada yang tetap berpura-pura utuh.
Engkau tak pernah mencintaiku
sebagaimana aku ingin dicintai
tanpa takut, kepada silsilah dan penghakiman.
Aku menunggumu menjadi berani,
namun itu tak pernah terjadi.
Kini yang tersisa hanyalah bayangmu,
lelaki yang hidup di lorong ingatanku,
Dan suatu hari nanti
engkau akan lenyap seperti salah satu mimpiku yang paling indah,
yang akhirnya pudar oleh waktu.
dan,
Aku pun akan melupakanmu
seperti engkau melupakanku
selamanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar