Rabu, 25 September 2024

Penghujan

rintik gerimis
jatuh di pelipis
aroma jalanan basah
serta, bau parfum yang tak asing di indra penciuman

bendungan rinduku pecah
terguyur hujan ditengah kota
bayangan rupamu, 
masih terukir indah

(membawa seluruh kenangan yang ada)

aku tersenyum gembira 
menyambut purnama
sembari berkata
"penghujan tlah tiba"

Senin, 23 September 2024

Retak (?)

aku adalah retak
seluruh jiwaku telah hilang
seluruh tubuhku telah cacat

aku adalah retak
bagaikan kembang ditaman,
aku adalah kembang yang berguguran 
layu, terinjak injak
tangan tangan nakal memetikku
mematahkan tangkaiku
menghilangkan tawaku

angin sepoi menerpa wajah telanjang 
aku berlari mengejar puncak
dengan kaki pincang
dan tentunya, nafas yang tak karuan

apa yang sedang kunantikan?

aku adalah retak
aku ingin bercerita tanpa dusta
namun mentari seakan akan memalingkan wajah
sembari disusul oleh kegelapan sang purnama

aku adalah retak
mencari tenang diantara ketakutan 
mencari angan diantara keputusasaan
mencari cinta didunia yang penuh dengan kefanaan

aku adalah retak, 
berlari lari tanpa tujuan
berangan angan meninggalkan kehidupan 
berharap agar bumi menelan
dan, apakah kau tau apa yang lebih menyedihkan ketimbang kematian? 

Sabtu, 14 September 2024

ilalang

sepoi sepoi angin
menerpa sebagian wajahku
sayup sayup jemari
merangkak, meraba api
ya, api sang iblis penuh dengan dendam hati

membara, 
tatapnya tajam tanpa rasa
menyimpan dendam 
menggerogoti jiwanya

samar samar, gelap gulita melanda
menyeret, mencekik leher rupawan
ia, ketakutan 

pada siapa kau meminta tenang?
apakah pada ilalang yang terbang dilelangitan malam?
ataukah, pada tuan yang membiarkan jiwamu menghilang?

tuhan,,
ahh sudahlah 
aku lelah mengharap pada engkau.

tak perlu mengingatkanku perihal tuhan 
kaupun tau, aku tlah lama meninggalkannya.

Rabu, 11 September 2024

Jatuh cinta kedua kalinya

tuan yang kucinta
taukah engkau, bahwa akupun ingin bersama?
diantara suka maupun duka
diantara kemarau maupu penghujan 
taukah engkau, bahwa akupun memendam rasa yang sama?

tuan yang kucinta
aku ingin merayumu melalui puisi
aku ingin menemani pagimu sembari menyeduh kopi
aku ingin menjadi sandaranmu ketika kau bersedih
dan, aku ingin menemanimu hingga tua nanti

namun maaf seribu pedih
aku tak berhak atas ini
aku gagal menjaga wangi
harumku tlah pergi
tangkaiku tlah mati
aku tlah dipetik,
diantara bunga bunga yang mekar paling cantik
aku adalah bunga layu yang tersisih

inginku gapai dikau
namun aku sadar diri
aku tak lebih, dari bunga yang tlah mati
kau pantas dan berhak mendapat yang terbaik
aku hanyalah sekedar 
"bunga layu yang berduri"

segala doaku membaur diantara langit
diantara bulan sabit yang bersinar cantik
harmoni lagu menemani tangkaiku menari
aku berharap, semoga langkahmu selalu diberkati.

ckckck

Bunuh diri
seni menantang tuhan secara sembrono dan egois
memainkan dendam sembari membopong pertanyaan sadis
apakah kau kira tuhan akan mendengar kisahmu yang tragis?
apakah kau kira tuhan peduli saat kau sedang menangis?

tuhan tlah memberimu akal. gunakanlah sebaik baiknya. tak perlu manja mempertanyakan takdir sang kuasa. ia pencipta alam semesta, kau tak ada apa"nya.
dan,
kau tau apa yang lebih menyedihkan dari sesuatu yang telah ditakdirkan?
ketika kau sadar, kau tak bisa apa". 
maka sujudlah.
bunuh diri adalah keputusan gila!.

waktu berlalu begitu cepat
jantung terus berdetak 
bumi terus berputar 
hidup terus berjalan
lalu apa yang kau harapkan?
menarilah, jadilah gila didunia fana
jika kau mati, jiwamu tak diterima 
jika kau hidup, batinmu tak terima 
mengapa kau begitu tersiksa?
bahagialah!
tertawalah!

mungkin kau akan bertanya 
mengapa kau selalu membawa derita?
mengapa kau selalu menjadi sesuatu yang berbeda?
apa yang kau cari? apakah kau bahagia?
akupun, tak tau jawabannya 
bukankah, hidup adalah penderitaan 
karna kurasa, memang benar adanya.
bodoh.

Siang didepan tugu pahlawan

siang ini, saya berbincang dengan bapak tukang sol sepatu yang berjejeran disebrang jalan tugu pahlawan

"demokrasi hari ini kacau ya nok, saya heran mengapa tidak ada mahasiswa yang turun kejalan"

"seperti ditahun 1998 pak?" jawabku

"Iya nok"

"bukankah dulu demokrasi lebih tipis ya pak? dan kebebasan berpendapat tidak ada, sedangkan skrng kan masih sedikit longgar pak, mungkin bagi para mahasiswa blum sampai masa kritis" kataku sembari sedikit membela almamater yang kugunakan

"kampus mana nok?"

"UNESA pak"

"Jurusan?" tanya bapak yang lain

"Pendidikan Masyarakat pak"

"nok, dulu dizaman pak harto kita berbincang seperti ini saja tidak diperbolehkan. apalagi saat Pemilu, untuk bertatap muka saja sudah diobrak. saya ingat betul ditaun 1980an, banyak yg diculik dan dibunuh nok. memang benar, harga dizaman pak harto lebih murah, namun mencari uang juga susah nok, saya tau kamu berpendidikan, kita berbicara mengenai negara bukan pertama kali ini, namun dari sekian banyak mahasiswa hanya beberapa yang masih mau memperjuangkannya seperti kamu, kamu lihat sendiri toh bagaimana kacau nya negara kita terlepas dari status mahasiswa mu itu

"teringat dulu saya pernah dipukuli oleh angkatan, hanya karna saya berbincang dengan orang betawi sampai tengah malam" saut salah satu bapak"

"miris, saya menyadari akan hal itu, kalo kata Tan Malaka nih pak, tlah banyak pemuda yg kehilangan idealisme nya haha. namun hidup butuh realita bukan idealisme toh pak" jawabku

"hahaha, skrng saja yang bawah pungli yang atas korupsi nok, bisa apa kita selain mencari hidup hanya untuk makan. yang penting tidak kelaparan, bukan begitu? berharap apa lagi kita? mahasiswa sekarang telah terlena, para pentolan haus kekuasaan saut bapak agak gendut disampingku.

ya realitanya memang seperti itu pak, saya juga ndak punya kekuasaan apa", hanya bisa merasani dari bawah. memang benar keyakinan saya bahwasanya negara kita terlahir prematur.

hahaha, sambung mereka dengan tawa khas bapak", aku menyadari politik tidak hanya diakses oleh segerombolan orang yang memiliki pendidikan, namun juga oleh rakyat dari berbagai kelas termasuk kelas bawah justru rakyat kelas bawah itulah yang memiliki harapan lebih besar walaupun cenderung bersikap apatis-.

Sabtu, 07 September 2024

lagi dan lagi

aku tak tau mengapa 
perasaan itu terus muncul
menggerogoti batinku 
menusuk relung jiwaku
ia, seakan akan mecekikku
menarikku kedalam lubang yang sama
kegelapan yang dalam

iblis itu, datang lagi
ia tak senang melihatku tertawa 
ia, membenci senyumanku
ia mencekikku erat
memaksaku untuk memutus harap
bagiku, kebahagiaan adalah awal malapetaka 

ia menari diantara penderitaan 
ia tertawa diatas tangisan
harapanku perlahan sirna
aku tak berani berharap
ragaku kosong
jiwaku hampa
aku tlah mati sejak lama

“mengapa engkau tidak melonte saja (?)”

ah, jangankan melonte. aku saja jijik pada tubuhku setiap kali bercermin. ​ jujur saja, terkadang aku membenci tubuhku., lipatan lemak yang ...