perasaan itu terus muncul
menggerogoti batinku
menusuk relung jiwaku
ia, seakan akan mecekikku
menarikku kedalam lubang yang sama
kegelapan yang dalam
iblis itu, datang lagi
ia tak senang melihatku tertawa
ia, membenci senyumanku
ia mencekikku erat
memaksaku untuk memutus harap
bagiku, kebahagiaan adalah awal malapetaka
ia menari diantara penderitaan
ia tertawa diatas tangisan
harapanku perlahan sirna
aku tak berani berharap
ragaku kosong
jiwaku hampa
aku tlah mati sejak lama
Tidak ada komentar:
Posting Komentar