Rabu, 11 September 2024

Siang didepan tugu pahlawan

siang ini, saya berbincang dengan bapak tukang sol sepatu yang berjejeran disebrang jalan tugu pahlawan

"demokrasi hari ini kacau ya nok, saya heran mengapa tidak ada mahasiswa yang turun kejalan"

"seperti ditahun 1998 pak?" jawabku

"Iya nok"

"bukankah dulu demokrasi lebih tipis ya pak? dan kebebasan berpendapat tidak ada, sedangkan skrng kan masih sedikit longgar pak, mungkin bagi para mahasiswa blum sampai masa kritis" kataku sembari sedikit membela almamater yang kugunakan

"kampus mana nok?"

"UNESA pak"

"Jurusan?" tanya bapak yang lain

"Pendidikan Masyarakat pak"

"nok, dulu dizaman pak harto kita berbincang seperti ini saja tidak diperbolehkan. apalagi saat Pemilu, untuk bertatap muka saja sudah diobrak. saya ingat betul ditaun 1980an, banyak yg diculik dan dibunuh nok. memang benar, harga dizaman pak harto lebih murah, namun mencari uang juga susah nok, saya tau kamu berpendidikan, kita berbicara mengenai negara bukan pertama kali ini, namun dari sekian banyak mahasiswa hanya beberapa yang masih mau memperjuangkannya seperti kamu, kamu lihat sendiri toh bagaimana kacau nya negara kita terlepas dari status mahasiswa mu itu

"teringat dulu saya pernah dipukuli oleh angkatan, hanya karna saya berbincang dengan orang betawi sampai tengah malam" saut salah satu bapak"

"miris, saya menyadari akan hal itu, kalo kata Tan Malaka nih pak, tlah banyak pemuda yg kehilangan idealisme nya haha. namun hidup butuh realita bukan idealisme toh pak" jawabku

"hahaha, skrng saja yang bawah pungli yang atas korupsi nok, bisa apa kita selain mencari hidup hanya untuk makan. yang penting tidak kelaparan, bukan begitu? berharap apa lagi kita? mahasiswa sekarang telah terlena, para pentolan haus kekuasaan saut bapak agak gendut disampingku.

ya realitanya memang seperti itu pak, saya juga ndak punya kekuasaan apa", hanya bisa merasani dari bawah. memang benar keyakinan saya bahwasanya negara kita terlahir prematur.

hahaha, sambung mereka dengan tawa khas bapak", aku menyadari politik tidak hanya diakses oleh segerombolan orang yang memiliki pendidikan, namun juga oleh rakyat dari berbagai kelas termasuk kelas bawah justru rakyat kelas bawah itulah yang memiliki harapan lebih besar walaupun cenderung bersikap apatis-.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

“mengapa engkau tidak melonte saja (?)”

ah, jangankan melonte. aku saja jijik pada tubuhku setiap kali bercermin. ​ jujur saja, terkadang aku membenci tubuhku., lipatan lemak yang ...