Minggu, 14 Desember 2025

BANGSA SUSAH

Arit mengayun di ladang kering, 

petani tersenyum sambil menggerting.

Panen ludes disambar asing, 

ekonomi lumpuh, tidur pun garing.


Kami ini rakyat jelata, 

hidup keras, luka tak nyata.

Elang jatuh, sayapnya patah, 

tikus berpesta di tengah resah.


Kami lapar, dan dahaga,

di negeri kaya yang pura-pura buta.

Hukum dibengkokkan demi kuasa, 

rakyat tertindas, nasib tak bersuara.


Tangis kami tak sampai ke istana, 

tertelan dalam drama para penguasa.


Bangsa susah, luka terbuka,

masih adakah yang benar di antara kita?

Sabtu, 25 Oktober 2025

Aku, Lira.

Ketika aku mulai mencari makna kehidupan, sesuatu yang dahulu kuanggap suci dan abadi, aku malah kehilangan kemampuan untuk sekadar hidup. Bukan hanya sekadar bernafas atau berjalan, tapi hidup, dalam artinya yang paling sederhana, yang paling manusiawi. Kini aku bahkan tak tahu bagaimana caranya kembali ke sana.

Cermin di hadapanku bukan lagi benda yang memantulkan bayang, tapi luka yang memantulkan kepatahan. Dulu aku bisa menatap diriku dengan iba, lalu menenangkan hati yang retak dengan kalimat-kalimat lembut “tak apa, semua akan baik-baik saja.” Tapi sekarang, kata-kata itu terasa konyol. Tertawa getir di antara air mata yang sudah basi. Aku tak bisa menenangkan diriku sendiri lagi. Yang kulihat di sana hanya seorang perempuan bodoh, yang terus berharap pada sesuatu yang tak pernah datang, yang terus menunggu arti dari sesuatu yang barangkali memang tidak punya arti sama sekali.

Pernah, aku mencoba menikmati hidup, menertawakan video lucu, bercanda dengan seumuranku, menangisi kisah cinta yang perih, menikmati getir yang menyentuh, dan lain lain. Namun semua itu kini hanya permainan kosong, lampuku padam, dan panggungku sunyi. Tak ada lagi yang menghiburku. aku melihat naga dan tikus-tikus lapar sedang menggerogoti sesuatu yang dulu kupanggil harapanku.

Mungkin aku memang salah memahami segalanya. Mungkin hidup ini memang tidak pernah punya makna. Tapi betapa menyakitkan ketika menyadari itu sepenuhnya, bukan sekadar sebagai gagasan, tapi sebagai kenyataan yang membungkam. Rasanya seperti menelan debu dari reruntuhan diriku sendiri. Aku tahu, ini mungkin adalah nasibku. Tapi aku tidak bisa berdamai dengannya. Aku tidak bisa memuaskan diriku sendiri dengan kepasrahan yang kering.

Andai aku seperti seorang pria yang hidup di hutan, ia tahu tak ada jalan keluar, maka ia duduk, menerima, dan menunggu kematian datang seperti kabut yang lembut. Tapi aku bukan dia. Aku ini wanita yang tersesat di hutan yang sama, berlari dengan kaki yang berdarah, panik mencari jalan pulang yang tak pernah ada. Setiap langkah yang kuambil justru menjerumuskanku makin dalam, makin gelap, makin asing. Dan aku tahu aku tersesat, tapi aku tak bisa berhenti berlari. Karena yang lebih menakutkan dari tersesat adalah berhenti dan mendengar sunyi menelanku bulat-bulat.

Kengerian itu… oh Tuhan, kengerian itu lebih besar dari apapun. Ia hidup di dalam dadaku, berdenyut bersama nadi, menjerat leherku dengan tali yang tak kasat mata. Aku takut pada masa depan, tapi aku juga takut pada sekarang. Aku takut pada hidup, tapi aku juga takut pada mati. Dan di antara dua ketakutan itu, aku menggantung,. menggantung dengan getir di lidah dan simpul tali di kepala.

Kadang aku berpikir, mungkin di dalam hatiku ada kapal kecil yang menunggu badai terakhirnya. Ia tahu, entah ia akan pecah, atau laut yang akan tenang. Tapi aku tak bisa sabar menunggu akhir itu. Aku ingin menghempaskan diriku ke laut agar semua usai. Agar kegelapan berhenti menatapku. Agar aku bebas. Bebas dengan cara yang paling sunyi, dengan tali yang menegang, atau peluru yang memecah sunyi. Begitulah keinginan untuk membunuh diriku sendiri itu muncul, dari kelelahan yang terlalu dalam. (aku tahu benar, setiap orang memiliki bebannya masing - masing)

Namun di sela tangisanku yang terputus-putus, aku masih mencoba memahami. Mungkin… mungkin aku telah melewatkan sesuatu. Mungkin aku salah mengerti sesuatu. Karena tak mungkin, bukan? Tak mungkin kondisi yang seputus asa ini wajar bagi seorang wanita muda (umurku baru dua puluh, namun aku merasa telah tertinggal jauh.) Tak mungkin dunia begitu kosong sampai aku harus kehilangan makna hanya untuk tetap hidup.

Lalu aku mencari. Aku mencari penjelasan. Aku menggali dalam buku-buku, dalam teori, dalam kata-kata para filsuf, aku tenggelam. Tapi yang kutemukan hanyalah gema., gema dari pikiranku sendiri yang kembali memantul “Tidak ada.” Aku mencari, terus mencari, karena ada rasa sakit yang tak tertahankan. Aku mencari seperti seorang wanita yang binasa, memohon keselamatan dalam kegelapan yang tak berujung.

Dan ketika aku tak menemukan apa pun, aku mengerti.

Bahwa tak ada keselamatan bagi orang yang telah kehilangan makna.

Bahwa tak ada doa yang cukup kuat untuk menarikku kembali dari jurang ini.

Yang tersisa hanyalah deru nafas, yang semakin lama samakin pelan., dan bahkan itu pun kini terasa seperti beban.

Selasa, 07 Oktober 2025

aku ingin rembulan melahapku bulat bulat malam ini, jujur saja, aku tak sanggup lagi

Selasa, 30 September 2025

Jatuh cinta pada “mata air”

​aku ingin mencintaimu tanpa menduga- duga 

tanpa prasangka yang berputar di kepala

aku ingin mencintaimu dengan perlahan 

menyimpanmu di sela senyum yang tertahan

atau pada jarak yang sengaja ku jaga


aku ingin mencintaimu dengan perlahan

sembari menggenggam jemarimu di balik meja diam-diam,

sederhana, dengan penuh rahasia


aku ingin mencintaimu dengan tenang

menulis malam dengan namamu di dalamnya

dibawah rembulan purnama

menyimpan segala langkah dalam cahaya

tanpa perlu suara yang menjelaskan


aku ingin mencintaimu dengan tenang

membiarkan waktu mengukir kita

membiarkan hati berbicara

tanpa perlu aku mengakuinya

Selasa, 09 September 2025

Where is God when i fall?

Not a few souls live with the sense that God has never turned His gaze toward the suffering of His children. In whispered prayers, in tears shed in the solitude of night, what so often answers is silence itself. Then a question rises within me, "where is God when people collapse? Does He dwell in some unreachable heaven, or does He pulse faintly within my very veins?"

This question has become a battlefield of the spirit. For some remnant of faith still insists to me that God exists, that all things move by His will, that His creation is never wholly abandoned. And yet, this belief collides violently with the fact that suffering persists ceaseless, merciless, etched not only on a single face but multiplied in countless millions across the earth.

Thus emerges a dilemma within my faith is suffering ordained by Him as a test, or is it born from our own blindness, our human stupidity that fails to grasp the light entrusted to us? These questions return to me again and again, for they uncover the darker side of faith that belief is never free of doubt.

Einstein once said, "God does not play dice." The words deny the thought that the world unfolds by chance, without meaning. Yet if not by chance, then something far more disturbing confronts us, there is a design, there is intention, and suffering is woven into it. How then are people to bear the knowledge that pain, tears, and loss are part of the very script of existence?

At this point, my faith changes its form. It is no longer mere obedience, but the unending questions of a sinner such as myself. I believe that God is. But, where is He when I fall?

Kamis, 31 Juli 2025

Lara dan Kucing kecil (dalam gugatan)

seekor kucing kecil

duduk diam di sudut jalan

bulu lusuh, mata menanti.

sembari berharap agar dunia sedikit lebih lunak..

pada makhluk yang tak sempat memilih nasib.

dan di seberang jaln,

seorang gadis menatap langit

dengan mata lembab, akibat terlalu sering basah.

ia bicara,

pada keheningan

yang tak pernah menjawab dan, mengobati lukanya..

“aku kalah.”

“permainan ini tak adil sedari awal.

Tuhan, mungkin, bermain dadu.

dan aku, aku hanya figuran

dalam naskah yang tak pernah kumengerti.

diberi mimpi,

tapi tak pernah diberi harap untuk sampai.”

lalu ia berbicara, lagi dan lgi

seolah langit menyimak, pengakuannya

“aku kalah

pada mereka yang lahir sempurna,

yang tak pernah tahu apa itu kehilangan,

yang tak perlu berperang

hanya untuk merasa bernilai.”

“aku kalah

pada wajah-wajah yang dicintai tanpa alasan,

pada harta yang menjelma jawaban,

pada dunia yang membentuk hierarki

bahkan sebelum aku bisa berkata siapa diriku sebenarnya.”

dan pada akhirnya,

apakah yang lahir dari kekurangan

diberi tempat di dunia ini,

selain sebagai pelengkap duka,

penanda batas,

atau kisah yang dikasihani

sebelum dilupakan kembali?

kucing itu pun beranjak

berlari menuju tangan

yang dingin, kaku,

dan

tak akan pernah bergerak lagi.

dan gadis itu,

telah selesai.

bukan hanya hidup,

tapi pertanyaan pertanyaan yang membuat ia gundah,,

tentang mengapa keberadaannya terasa seperti hukuman

yang tak pernah diputuskan bersama.

Lara dan Kucing kecil

Kucing kecil..

duduk diam,

di sudut jalan

bulu lusuh, mata menanti

dengan harap,

dengan berat hati

ia melangkah pergi,

dan di sisi pojok,

seorang gadis menangis

dengan tragis

ia menatap langit

dan mengakui

”aku kalah”

tak sekalipun permainan ini, aku menangkan,

“tuhan bermain dadu! dan aku hanya mendapat peran sebagai pembantu!, yang bermimpi mengubah takdir”

dan sekali lagi gadis itu meratap,

langit, aku kalah,,

pada mereka yang lahir sempurna

yang tak pernah tahu arti kehilangan

tak pernah risau tentang harga hidup

langit, aku kalah,,

pada wajah yang mudah dicintai,

pada harta yang membuka semua pintu,

pada hal-hal yang membuatku

merasa kecil,

dan tak layak,

dan aku tak tahu,

apakah yang lahir dari kekurangan

belas kasih,

atau, ditinggalkan

lagi, lagi dan lagi.

kucing itu berlari,

pada sayup jemari,

yang, tak pernah bergerak lagi,

gadis itu, tlah mati.

Jum’at Kelabu

​ Jumat Kelabu Gagak tua melintas bisu di balik pias jendelaku orang-orang pergi berkabung  pada mereka yang telah gugur kau tahu, bagai...