Selasa, 13 Agustus 2024

pa ra ra ra ra~

Redup, Cahaya rembulan malam 
Mentari mulai tenggelam 
bintang bintang bertaburan 
tenang, dan mempesona 
membawa damai dalam jiwa 

Raga penuh kerapuhan 
Jiwa penuh kekosongan 
hidup penuh kepedihan 
melebur sirna
hilang sekejap menjadi senyuman 

senyum bahagia 
canda dan tawa
setiap insan yang memadu cinta
ada yang hilang
ada yang datang
membawa harapan
menanti penyesalan 
andai andai, semoga sesal tak melanda

rembulanpun ikut bahagia 
melihat gadis kecil yang patah
yang matanya sayu penuh derita
mulai berlari tanpa tergoyah
menerima takdir dengan rasa ikhlas yang nyata

walau pernah terjebak dalam lorong kegelapan 
ia tak ketakutan
ia bangkit, berlari menuju cahaya 
sembari bernyanyi, ia riang gembira 

ia menyadari satu hal, bahwasanya yang terpenting dalam hidup bukanlah menangis dibawah reruntuhan. namun, tentang bagaimana cara berjalan diatas reruntuhan.

1 komentar:

  1. Aku memujamu walau dalam mimpi
    Namun kau tiada mendengar keluhku
    Gelisahku menghantui kehidupanku
    Gundahkan jiwaku menghadapi semua
    Impianku telah pergi menjauh

    Bagai terhantam badai naliriku pudar
    Aku rapuh karna pedihku
    Gubahlah semua kelam ini
    Untuk kebebasan jiwaku
    Sudahilah luka ini

    Hariku telah banyak menghilang
    Apa belum cukup pedih ini terpelihara
    Riuhnya jeritan suara hati
    Ingin segera kuredamkan semua
    Agar nafas ini terhembus tenang
    Nada yang telah usang
    Tiada akan menenangkan jiwa
    Oleh angan yang terlunta-lunta

    kakak ambil 1 huruf depan pada tiap kalimat, maka akan membentuk sebuah nama 😅

    BalasHapus

“mengapa engkau tidak melonte saja (?)”

ah, jangankan melonte. aku saja jijik pada tubuhku setiap kali bercermin. ​ jujur saja, terkadang aku membenci tubuhku., lipatan lemak yang ...