Minggu, 25 Agustus 2024

Surat untuk Bapak Republik

Hai bung!
Bagaimana kabarmu?
Apakah, kau telah menemukan bahagiamu disana?
Apakah, kau telah menemukan permaisurimu disana?
dan, Apakah kau masih merasakan rasa sakit atas kematianmu yang hening bung?

Bung,
aku ingin bertanya, tentang bagaimana reaksimu ketika engkau dikucilkan oleh bangsa yang kau bela?
bagaimana perasaanmu?
apakah engkau kecewa?
apakah engkau marah pada mereka?
mereka yang tengah bersenang senang diatas tahta kekuasaan?

Bung,
Apakah kau tau? mengapa aku lebih menyukai engkau ketimbang Bung Karno?
Mengapa aku lebih ingin memahamimu ketimbang beliau?
ku akui, engkau dan bung Karno adalah pejuang yang hebat, namun mengapa, mataku terpaku pada perjuanganmu bung?
apakah karena kita adalah orang" yang tersisihkan? 
orang orang dibalik layar yang selalu berlarian?

menjadi berbeda?
aku paham betul
bagaimana rasanya,
kita sama sama tersingkirkan 
kita sama sama dilupakan 
namun, bukankah manusia memang seegois itu? bung,,
sepertinya dunia ini, terlebih zaman ini tak cocok untuk orang orang sepertiku 
tak ada tempat bagi orang orang seperti kita
orang orang yang tak bisa dibungkam dengan ancaman atau bahkan rupiah
orang orang yang terlalu frontal atas pemikirannya dan tak memperdulikan kepentingan pribadinya
orang orang yang hanya memikirkan keadilan,
orang orang seperti kitalah yang pada akhirnya berakhir tragis.

Bung, 
terkadang aku bertanya 
bagaimana bisa tuhan menciptakan surga dan neraka tetapi mengesampingkan keadilan didunia?

hanya engkau yang bisa menjawabnya bung,
ku hadiahkan Al- fatihah padamu, bapak Republik Sultan Ibrahim Datuk Tan Malaka.
Al-fatihah..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

“mengapa engkau tidak melonte saja (?)”

ah, jangankan melonte. aku saja jijik pada tubuhku setiap kali bercermin. ​ jujur saja, terkadang aku membenci tubuhku., lipatan lemak yang ...