Minggu, 28 Juli 2024

cinta yang tak guna (?)

alam seakan menyuruhku untuk berpuisi
memaksaku untuk mengingatmu kembali
didalam relung sunyi 
pada cinta yang menyayat hati

kau tau aku pun tau
bahwa kita tak kan bersatu
entah karena restu
atau karena sifatmu

gelisah, selalu menghantuiku 
rasa ingin kembali dalam pelukmu
rasa kecewa dan benciku 
rasa sakit hati dan dendamku

aku mencintaimu 
namun, akupun membencimu 
aku menyesali hal hal menyedihkan padamu
pada alam yang selalu menjadi tempat bersembunyiku

aku pecundang 
dan kau bajingan
hubungan kita tak lebih dari pada itu
aku menyesali mu
dan engkau, tak pernah sekalipun menyesali diriku

pada akhirnya, aku sendiri
aku hancur sendiri
jika cinta adalah luka
maka aku,
aku adalah satu, satu keretakan yang utuh.

3 komentar:

  1. Alam memang tak pernah diam,
    selalu mengajarkan pada hati yang terluka
    bahwa kenangan dan cinta
    adalah luka yang tak pernah benar-benar sembuh.

    Kita sama-sama tahu
    bahwa jarak ini bukan sekadar ruang,
    tetapi hati yang tak saling bertaut
    dan restu yang tak pernah datang.

    Gelisah adalah teman malamku
    kerinduan yang ingin kembali,
    tetapi kekecewaan dan benci
    terus menghantui dalam setiap mimpi.

    Cinta dan benci sering berdansa
    dalam hati yang berantakan
    menyesali tiap luka
    yang bersembunyi dalam alam yang hampa.

    Kita adalah tokoh dalam drama yang pahit
    aku pecundang, kau bajingan
    hubungan ini hanya serpihan
    dari cerita yang penuh penyesalan.

    Pada akhirnya, kesendirian adalah teman setia
    hancur dalam keping-keping
    jika cinta adalah luka,
    maka kita adalah retakan
    yang menyatu dalam kepedihan.

    BalasHapus
  2. Jujur, gua baru baca beberapa, dan yap, setiap ketikan mu yang kamu utarakan dalam cerpen ini, menggambarkan isi hati dan pikiran mu, kita emang gak kenal, gua cuman mau bilang semangat dalam menghadapi dunia yang tidak adil ini^^

    BalasHapus
  3. Meskipun pernah gagal membangun cinta, jgn sampai tdk tdk pubya rasa cinta

    BalasHapus

“mengapa engkau tidak melonte saja (?)”

ah, jangankan melonte. aku saja jijik pada tubuhku setiap kali bercermin. ​ jujur saja, terkadang aku membenci tubuhku., lipatan lemak yang ...