Selasa, 30 September 2025

Jatuh cinta pada “mata air”

aku ingin mencintaimu tanpa menduga- duga 

tanpa prasangka yang berputar di kepala

aku ingin mencintaimu dengan perlahan 

menyimpanmu di sela senyum yang tertahan

atau pada jarak yang sengaja ku jaga


aku ingin mencintaimu dengan perlahan

sembari menggenggam jemarimu di balik meja diam-diam,

sederhana, dengan penuh rahasia


aku ingin mencintaimu dengan tenang

menulis malam dengan namamu di dalamnya

dibawah rembulan purnama

menyimpan segala langkah dalam cahaya

tanpa perlu suara yang menjelaskan


aku ingin mencintaimu dengan tenang

membiarkan waktu mengukir kita

membiarkan hati berbicara

tanpa perlu aku mengakuinya

Selasa, 09 September 2025

Where is God when i fall?

Not a few souls live with the sense that God has never turned His gaze toward the suffering of His children. In whispered prayers, in tears shed in the solitude of night, what so often answers is silence itself. Then a question rises within me, "where is God when people collapse? Does He dwell in some unreachable heaven, or does He pulse faintly within my very veins?"

This question has become a battlefield of the spirit. For some remnant of faith still insists to me that God exists, that all things move by His will, that His creation is never wholly abandoned. And yet, this belief collides violently with the fact that suffering persists ceaseless, merciless, etched not only on a single face but multiplied in countless millions across the earth.

Thus emerges a dilemma within my faith is suffering ordained by Him as a test, or is it born from our own blindness, our human stupidity that fails to grasp the light entrusted to us? These questions return to me again and again, for they uncover the darker side of faith that belief is never free of doubt.

Einstein once said, "God does not play dice." The words deny the thought that the world unfolds by chance, without meaning. Yet if not by chance, then something far more disturbing confronts us, there is a design, there is intention, and suffering is woven into it. How then are people to bear the knowledge that pain, tears, and loss are part of the very script of existence?

At this point, my faith changes its form. It is no longer mere obedience, but the unending questions of a sinner such as myself. I believe that God is. But, where is He when I fall?

Kamis, 31 Juli 2025

Lara dan Kucing kecil (dalam gugatan)

seekor kucing kecil

duduk diam di sudut jalan

bulu lusuh, mata menanti.

sembari berharap agar dunia sedikit lebih lunak..

pada makhluk yang tak sempat memilih nasib.

dan di seberang jaln,

seorang gadis menatap langit

dengan mata lembab, akibat terlalu sering basah.

ia bicara,

pada keheningan

yang tak pernah menjawab dan, mengobati lukanya..

“aku kalah.”

“permainan ini tak adil sedari awal.

Tuhan, mungkin, bermain dadu.

dan aku, aku hanya figuran

dalam naskah yang tak pernah kumengerti.

diberi mimpi,

tapi tak pernah diberi harap untuk sampai.”

lalu ia berbicara, lagi dan lgi

seolah langit menyimak, pengakuannya

“aku kalah

pada mereka yang lahir sempurna,

yang tak pernah tahu apa itu kehilangan,

yang tak perlu berperang

hanya untuk merasa bernilai.”

“aku kalah

pada wajah-wajah yang dicintai tanpa alasan,

pada harta yang menjelma jawaban,

pada dunia yang membentuk hierarki

bahkan sebelum aku bisa berkata siapa diriku sebenarnya.”

dan pada akhirnya,

apakah yang lahir dari kekurangan

diberi tempat di dunia ini,

selain sebagai pelengkap duka,

penanda batas,

atau kisah yang dikasihani

sebelum dilupakan kembali?

kucing itu pun beranjak

berlari menuju tangan

yang dingin, kaku,

dan

tak akan pernah bergerak lagi.

dan gadis itu,

telah selesai.

bukan hanya hidup,

tapi pertanyaan pertanyaan yang membuat ia gundah,,

tentang mengapa keberadaannya terasa seperti hukuman

yang tak pernah diputuskan bersama.

Lara dan Kucing kecil

Kucing kecil..

duduk diam,

di sudut jalan

bulu lusuh, mata menanti

dengan harap,

dengan berat hati

ia melangkah pergi,

dan di sisi pojok,

seorang gadis menangis

dengan tragis

ia menatap langit

dan mengakui

”aku kalah”

tak sekalipun permainan ini, aku menangkan,

“tuhan bermain dadu! dan aku hanya mendapat peran sebagai pembantu!, yang bermimpi mengubah takdir”

dan sekali lagi gadis itu meratap,

langit, aku kalah,,

pada mereka yang lahir sempurna

yang tak pernah tahu arti kehilangan

tak pernah risau tentang harga hidup

langit, aku kalah,,

pada wajah yang mudah dicintai,

pada harta yang membuka semua pintu,

pada hal-hal yang membuatku

merasa kecil,

dan tak layak,

dan aku tak tahu,

apakah yang lahir dari kekurangan

belas kasih,

atau, ditinggalkan

lagi, lagi dan lagi.

kucing itu berlari,

pada sayup jemari,

yang, tak pernah bergerak lagi,

gadis itu, tlah mati.

Rabu, 30 Juli 2025

Malam dan Cinta

aku ingin mencintaimu dengan

sederhana

pada malam -malam,

saat purnama menyapa

pada malam -malam,

saat senyummu

terlintas

pada malam -malam,

saat rinduku tersayat

dalam ambang sunyi tak tersirat

katakanlah,, katakanlah sayangku,

apa yang engkau tahu tentang cinta, manisku?

ketika genggamanku menguat dan ragamu ku peluk erat.

apa yang engkau tahu tentang cinta, manisku?

ketika, tatapku larut dalam kedua bola mata bulat menawan..

apa,, apa yang engkau ketahui tentang cinta, manisku..

mendayung lara fatamorgana

ingin ku gapai dalam dangkal purnama ingin, ingin ku genggam jemarimu,

dalam sela -sela retakku

ingin, ingin ku peluk ragamu,

dalam lirih tangisku dalam diam gemuruh luruh

Panci kosong dan Doa ibu

aku ini orang tak punya

bertahan hidup terkadang susah

namun aku masih sempat tertawa melakukan pendakian makan mie ayam

dan segala hal yang aku suka

orang miskin tak boleh menyerah pada keadaan katanya...

tak pantas bagi kami mendalami luka, kecewa, dan amarah.

atau memikirkan sistem negara yang rusak entah sejak kapan..

pada hukum yang tak berpihak dan langkah-langkah kecil kami, untuk mencari nafkah

aku menggugat.

kepada bumi yang kupijak

dan para tikus yang sedang berpesta di atas penderitaan rakyat jelata

dan aku berteriak.

ketika kaki aparat menginjak brutal

ketika koruptor menjadi dewa dalam puja rakyat

lalu aku bertanya-tanya,

mengapa aku tak mati begitu cepat?

seperti Tan yang mati ditembak,. seperti Munir yang diracun di pesawat,. atau bahkan Wiji Thukul.. yang hilang diculik aparat.

doa ibu... bisik malaikat.

mengapa aku tak cacat setelah tertembak?

doa ibu... bisik malaikat,.

panci kosong di rumahku menjadi saksi tentang manusia merdeka yang menderita

dalam bait harmoni negeri.

Senin, 07 Juli 2025

my flower

I think I miss you,,

more than I can ever say.

Sometimes it feels like the sky is collapsing,

like the weight of everything unsaid is pressing down on my chest.

There's anger, and there's hurt.

Both swirl together like a storm I can't escape.

But through it all, I still love you.,

with a kind of honesty that comes from the deepest part of me.

You're in a place I can't reach.

So far away, as if you belong to a different world now.

And here I am, left only with the silence between us.

Maybe, in another life...

when time is softer,

when the world is kinder,

I'll find you again,.

and fall in love with you, again and again.

My love,.

​ What if you don’t have a mother to come home to?