Sabtu, 08 Agustus 2026

Elegy

Elegy

Hi, I’m Lira.

If one day someone were to read my writings, perhaps they would think that I have lived for far too long. That I am somehow older than the number printed on my identity card, or that experience carved the face of my soul long before it was meant to. But that is not true. It is not because they have fallen behind me; it is because I have spent too many years running, simply so I would not be the one left behind.

Since high school, I have worked in several shops. Between shifts, I attended organizational meetings; between meetings, I studied; and between all of those things, I quietly arranged my future with a precision that was almost indistinguishable from fear. I planned my life so carefully, as though one small mistake could bring the whole of my future down around me. Perhaps that is why people often think I have a plan for everything. What they do not see is that they are only looking at someone who has become too afraid to stop.

I love philosophy. Not because I wanted to become wise, but because I found myself there. Among sentences that speak of absurdity, silence, God, time, and suffering, I found something I had never found anywhere else: someone who understood why a chest can feel unbearably full even when no tears are falling.

I was born into a family that was comfortable enough. I was not deprived, at least not in the simplest sense of the word. And yet, for reasons I still cannot name, there was always an empty place upon my shoulders waiting to be filled with responsibility. I grew up believing that being useful was the only way to justify my existence. So I learned to work, to endure, to smile, and to hide my exhaustion so carefully that even I sometimes forgot I was tired.

The saddest part is that I never truly lived my youth. I did not enjoy my years at university. My mind was always arriving in the future before my body had even left the present. While my friends were learning how to love the day they were living, I was busy learning how to survive days that had not yet come. My thoughts moved twice as fast as my life, and little by little I lost the ability to simply be a twenty-one-year-old girl.

I wanted only one thing: to be seen, just once, as a young girl with all the ordinary joys that should belong to a girl her age. I wanted to go home without carrying the weight of tomorrow, to sit too long in a cheap café, to laugh until I forgot the hour, and not feel guilty for existing without being productive. It sounded like such a small wish, and yet somehow it felt impossible.

Last year was the year that changed the way my body remembers. Something terrible happened, and ever since then it has felt as though a stone has been living inside my chest. Strangely, the world did not stop. People kept greeting me as if nothing had happened, kept inviting me into conversations, kept believing that I was all right, as though I was not walking through my days carrying ruins within me. They believed my smile. They believed my laughter. How easily the world mistakes survival for happiness simply because someone is still capable of making a joke.

I do not know how much longer I can keep going. Sometimes it feels as though the organs inside my body have begun to rebel, as though they surrendered before my mind ever did. There are mornings when waking up feels like lifting the remains of a house that collapsed long ago, and even breathing seems to require a kind of courage that no one ever teaches.

If I am allowed to be honest, there are moments when I wish I had never been born. Not because I hate life entirely, but because I have become too tired of carrying it. And if there is another life beyond this one, I ask for only one thing: may I be given a gentler life. A life that does not ask a young girl to spend so many years running merely to feel worthy of existing in the world.

Tonight I do not long for victory. I do not long for recognition. I do not want anyone to applaud everything I have survived. I only want to place my entire future on the floor, sit beside it, and for the first time in my life, not have to become anything at all.

I am tired.


​-

Tahun lalu
sebuah malapetaka
melintas di dalam hidupku.

Akan tetapi “mereka”
tetap hidup
seolah aku tidak apa-apa,
seolah peristiwa itu
tidak pernah terjadi,
seolah aku tidak sedang
membawa reruntuhan
di dalam dadaku.

Mereka percaya
kepada senyumku.

Mereka tertipu
oleh tawaku.


Tahun lalu
sesuatu di dalam diriku mati.

namun aneh sekali,
pemakamannya hanya dihadiri oleh aku.


Jumat, 07 Agustus 2026

A Shadow Man

Lelaki bayangan 

Ia hidup dalam memoriku
berputar seperti kaset usang
yang kusimpan rapat di dasar peti,
dikubur debu oleh musim,

Empat bulan adalah sebuah negeri kecil
yang diam-diam kita bangun dari langkah
(sembunyi, perlahan, namun menggebu)

Engkau selalu ada
di ujung halaman lengang,
di bangku kota ponorogo yang dingin
seolah kehadiranmu adalah doaku
yang tidak pernah selesai diucapkan.

Namun rumahmu dijaga ayat-ayat,
dan keluargamu menyalakan langit
dengan iman yang begitu tegak.

Di hadapanmu aku hanyalah perempuan
yang membawa terlalu banyak dosa di telapak tangan,
terlalu banyak masa lalu di kelopak mata,
terlalu banyak malam yang tak mungkin
diperkenalkan kepada ibumu.

Maka kita saling mencintai seperti para penyelundup
mungkin,.
atau hanya aku yang menyimpan namamu dalam saku yang paling dalam,
membiarkan dunia mengenal kita
sebagai dua orang asing dalam kebetulan

Aku tak pernah tahu
apakah engkau pernah mencintaiku.
Barangkali engkau hanya takut kehilangan Tuhan.,
dengan menggenggam tanganku.
Barangkali aku pun tak pernah tahu
apakah yang kurasakan adalah cinta,
atau hanya kesunyian yang menemukan wajahmu

lalu,
Kita berdua diam,
bersembunyi
di balik dada yang tetap berpura-pura utuh.

Engkau tak pernah mencintaiku
sebagaimana aku ingin dicintai
tanpa takut, kepada silsilah dan penghakiman.
Aku menunggumu menjadi berani,
namun itu tak pernah terjadi.

Kini yang tersisa hanyalah bayangmu,
lelaki yang hidup di lorong ingatanku,

Dan suatu hari nanti
engkau akan lenyap seperti salah satu mimpiku yang paling indah,
yang akhirnya pudar oleh waktu.

dan,
Aku pun akan melupakanmu
seperti engkau melupakanku
selamanya.


Kamis, 30 Juli 2026

my (fucking) favorite part about my life

I was born as a mistake someone kept trying to correct.

My parents’ voices still live inside my head,
returning in echoes
I never invited back.

Too often,
I have felt less like a daughter
and more like a fragile investment
something expected to grow,
to yield,
to repay.

Sometimes I wonder
if I had arrived a little earlier,
or a little later,
would I still have chosen
to be born at all?

I don’t know.

Some of my dreams died quietly,
not because I lacked the ability,
but because I was told
I did not need them.

I earned a degree
on a full scholarship.
I collected trophies,
won competitions,
filled folders with certificates,
and carried my achievements
like proof that I deserved
to take up space.

Still,
it was never enough.

I do not know,
as a daughter,
where the finish line of “enough”
is supposed to be.

So I kept running.

I have always been running.

Chasing the things
that are ordinary privileges
for some people,
but for me
were distances I had to survive
just to stop feeling
left behind.

Again and again,
my heart broke in silence.

And perhaps the cruelest part is this
I have always believed
that I am not allowed to fail.

Because I am
their firstborn daughter.


Sabtu, 25 Juli 2026

Tuhan dan Kebuntuan Berpikir

Ada saat-saat ketika manusia tidak sedang kehilangan keyakinan terhadap Tuhan, melainkan kehilangan kemampuan untuk memahami dunia. Di titik itulah pikiran memasuki ruang yang dipenuhi pertanyaan, tetapi bahkan nyaris tidak memiliki jawaban.


Dalam beberapa waktu aku selalu bertanya-tanya perihal Mengapa seseorang harus lahir di tengah kemiskinan, sementara yang lain mewarisi segala kemudahan? Mengapa ada mereka yang bekerja seumur hidup tanpa pernah keluar dari lingkaran penderitaan, sementara sebagian lainnya memperoleh kekuasaan yang cukup untuk merampas hak hidup jutaan orang melalui korupsi, tetapi tetap dapat tidur dengan tenang?


Dalam kebuntuan semacam itu, aku sebagai manusia sering kali mencari seseorang untuk dipersalahkan. Dan tidak jarang, nama pertama yang muncul adalah Tuhan.


Barangkali karena isi kepalaku lebih mudah mempertanyakan Sang Pencipta daripada menerima bahwa dunia memang tidak pernah dibangun di atas garis yang sama. Maka lahirlah berbagai pertanyaan yang telah menghantui manusia sejak ribuan tahun silam “jika Tuhan Maha kuasa, mengapa ketidakadilan tetap ada?Jika Tuhan Maha adil, mengapa nasib dibagikan dengan cara yang tampak begitu timpang? Jika Tuhan Maha baik, mengapa penderitaan sering kali justru menimpa mereka yang tampaknya paling tidak pantas menerimanya?”


Kebuntuan dalam berpikir semacam ini membuatku khawatir bahwa aku telah cacat secara akal, lalu sebisa mungkin aku mencari jawaban, lagi dan lagi, aku membuka buku-buku ku, mencari buku-buku filsafat usang di tumpukan rak perpus kota lama, dan aku kembali berpikir, 


Sehingga dalam pemikiranku, aku mulai mempertimbangkan kembali, jika suatu hari dunia ini benar-benar menjadi tempat yang sepenuhnya adil, tidak ada lagi kemiskinan, kelaparan, perang, pengkhianatan, atau ketimpangan., setiap manusia lahir dengan kesempatan yang sama, memperoleh kebahagiaan yang sama, dan tak seorang pun memiliki alasan untuk berbuat jahat, apakah kita masih akan memerlukan Tuhan?


Ataukah justru dalam dunia yang demikian, manusia akan menganggap dirinya telah cukup? Bahwa akal, hukum, dan peradaban telah berhasil mengambil alih seluruh peran yang selama ini disandarkan kepada-Nya?


Atau mungkin pertanyaannya harus dibalik.


Selama ini, apakah yang kita cari dari Tuhan adalah kebenaran… atau sekedar tempat untuk meletakkan semua hal yang gagal dijelaskan oleh akal?


Lalu, ketika akal suatu hari merasa telah mampu menjelaskan segalanya, kepada siapa manusia akan bertanya?


dering telfonku berbunyi, di akhir halaman buku, aku menutupnya rapat, sembari menutup mataku, akan hal-hal yang nantinya membuatku hanyut lebih dalam. (dunia berjalan seperti biasa, dan manusia masih dengan keserakahan dan ambisinya masing-masing).,

Jumat, 17 Juli 2026

Kae

Kae,

Akhirnya kamu menikah. Sebenarnya itu bukan sesuatu yang mengejutkan, karena jauh sebelumnya aku sudah mengetahui kabar itu. Bahkan sekarang, pernikahanmu sudah berjalan satu tahun lebih. Entah mengapa, malam ini aku kembali teringat.

Aku tidak bermaksud menjadi perempuan yang tidak tahu batas dengan merindukan seseorang yang kini telah menjadi milik perempuan lain. Bukan seperti itu. Mungkin hanya ada kenangan yang belum sempat benar-benar berpamitan, dan malam ini ia datang mengetuk sekali lagi.

Selamat ya, Kae. Selamat atas kenaikan pangkatmu sebagai mayor, dan Selanag atas pernikahanmu, Semoga pernikahanmu selalu dipenuhi kebahagiaan, ketenangan, dan hal-hal baik yang selama ini kamu harapkan. Aku masih memahami batasanku, karena itu aku hanya berani menuliskan semua ini di sini.

Ada banyak hal yang telah hilang dalam hidupku, kae. Namun, ada satu hal yang masih kuingat dengan sangat jelas, saat kamu menggenggam tanganku dan berkata, “Hidup akan baik-baik saja, dan kita akan bisa melaluinya.” Kalimat itu pernah, bahkan berkali-kali, menjadi kekuatan di masa-masa paling sulit dalam hidupku.

Kadang aku masih tersenyum kecil ketika mengingat kita (sebagai teman) pernah begitu keras kepala. Kamu pernah berkata bahwa sebagai istri seorang perwira aku tidak boleh lagi membaca buku-bukuku. Kamu juga pernah menentang keinginanku untuk mendirikan sekolah rakyat. Lucu ya, Kae. Sekarang justru aku semakin aktif di dunia pendidikan, koleksi buku-buku sayap kiriku yang dulu sering kamu protes semakin banyak, dan sebentar lagi aku akan lulus kuliah dalam tiga setengah tahun (semoga begitu).

Mungkin hidup memang punya caranya sendiri untuk membawa seseorang ke tempat yang tidak pernah ia bayangkan.

Tiga tahun terakhir hidupku terasa seperti terseret ombak di lautan yang sangat dalam. Kamu tahu betul aku tidak bisa berenang. Tapi, Kae, aku berhasil melewatinya. Mungkin tidak dengan sempurna, tetapi aku sampai di seberang.

Terima kasih. Terima kasih pernah hadir di salah satu bagian hidupku, dan terima kasih untuk kalimat sederhana yang tanpa kamu sadari pernah menyelamatkanku berkali-kali.

Maaf karena telah mengingatmu, maaf telah lancang (kita sudah lost contact sejak awal berpisah, jadi tenang saja teman-teman, aku tidak berniat lancang mencari perhatian jodoh orang haha).

Semoga kamu dan istrimu selalu berbahagia, saling menjaga, diberi kesehatan, umur yang panjang, dan rumah tangga yang penuh keberkahan.

Bahagialah selalu, Kae.


​ What if you don’t have a mother to come home to?