Senin, 14 April 2025

Di antara retak yang tak terdengar

Ada, ada jejak yang tak berpijak, 

membekas pada lantai waktu 

dan lorong yang gelap 

aku berjalan, diantara musim dan hujan deras sebelum mekar


Mereka berkata, angin tak memiliki aroma,

 namun, aku mengingat setiap hembusannya 

pada malam malam aku kehilangan

dan, kehilangan bukanlah hal yang sederhana


ia adalah bunyi paling lirih, 

yang tak mampu ditangisi

karena airmataku pun enggan jatuh,, 

pada sesuatu yang takkan pernah kembali.


Aku duduk di sisi terang 

dikhianati bayangan, 

memandang raga di koyak luka 

ia indah, namun penuh dendam


Tak semua yang patah terlihat bengkok, 

dan tak semua yang utuh merasa lengkap.


Aku bukanlah kepergian, 

bukan pula awal dari kebaruan. 

Aku hanyalah detik 

yang memilih diam saat takdir menghantam keras.


Dan bila jiwaku memilih pergi, 

itu bukan karena aku tak ingin tinggal,

tetapi karena beberapa rumah, 

tak dibangun untuk orang yang pernah terbakar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

“mengapa engkau tidak melonte saja (?)”

ah, jangankan melonte. aku saja jijik pada tubuhku setiap kali bercermin. ​ jujur saja, terkadang aku membenci tubuhku., lipatan lemak yang ...