Senin, 01 Juli 2024

Politik adalah barang yang kotor, lumpur yang kotor.

Politik adalah Kekuasaan diri terhadap segala hal. katanya. namun bagi saya pribadi politik adalah tipu daya, yap tipu daya terkait apapun yang ada didalamnya lebih" sebuah bangsa.

politik adalah barang yang paling kotor. lumpur" yang kotor. kata Soe Hok Gie, karena Gie berpandangan bahwasanya politik memiliki lingkup tertentu bukan kekuasaan atas diri namun kekuasaan atas sistem yang terjadi dalam pemerintahan. 

bayangkan saja jikalau ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) ahh, tidak perlu dibayangkan, kita bisa membaca sejarah dan melihat zaman sebelum reformasi. mereka (ABRI) memiliki kewenangan dalam politik, ah betapa kacaunya pemerintahan kita? berhadapan dengan uang saja mereka kalah. apalagi dengan politik? oh, bukan hanya mereka. melainkan kita semua, tak bisa dipungkiri, para aktivis yang berteriak kencang ditahun 1998 pun banyak yang mengingkari janjinya dimasa muda, terlena pula mereka dengan uang. apalagi seseorang yang telah mengerti betul arti dari jabatan dan politik itu sendiri?

betapa kacaunya bangsa ini, KKN ada dimana" namun kita hanya diam dan melihat? syukur" masih menyadari dan mengkritisi melalui sosial media, namun apa yg diharapkan lagi? anak muda telah kehilangan idealisme mereka. ksana ksini menjilat politisi untuk menjaga kursi. lucu. benar kata Tan Malaka, idealisme adalah kemewahan terakhir generasi muda. 

namun yasudahlah, mau bagaimana lagi? Perkuliahan yang katanya tempat paling suci untuk berpolitik tak lain hanya menjadi kaki dari partai politik itu sendiri. menjadi bahan percobaan politik dalam lingkup yang lebih kecil. 

semoga bangsa ini baik" saja, meskipun sudah menjadi tempat para tikus berkuasa.

cerdaslah seperti ular, dan munafiklah seperti merpati.

2 komentar:

  1. Bisakh kita diskusikn ini di puncak yang menjulang di bawah naungan langit diasah ribuan tanya sang rembulan?

    BalasHapus
  2. Politik membuat orang acuh terhadap negara

    BalasHapus

“mengapa engkau tidak melonte saja (?)”

ah, jangankan melonte. aku saja jijik pada tubuhku setiap kali bercermin. ​ jujur saja, terkadang aku membenci tubuhku., lipatan lemak yang ...