Selasa, 16 Juli 2024

Arjuno dan aku

matahari bersinar begitu indah
burung burung berkicauan
pohon pohon rindang seakan menari diantara alam
jejeran bebatuan yang menemaniku sepanjang perjalanan 

ia gagah nan indah 
ia tegas nan bijak
ia tampan nan rupawan 
dan ia menenangkan juga menakutkan 

aku berlari mengejar awan
canda tawa menemani gelisah
sembari bernyanyi, aku melangkah 
diantara keyakinan yang ku pertaruhkan 
entah gagal maupun berhasil, akan tetap menjadi cerita 
sebuah pertemuan yang mungkin tlah ditakdirkan tuhan
untukku, dan teman"ku

16 Juli 2024
kami berlima berhasil menapakkan kaki diatas puncak
keindahan alam yang kami nikmati bersama 
menjadi obat diantara duka
kami mendaki dengan latarbelakang berbeda 
ada yang berlatarbelakang mapala
ada yang sekedar menantang dirinya
dan adapula yang untuk memenuhi janji pada anaknya dimasadepan

perjalanan kami tidak mudah
ada banyak sekali drama
kami terjebak diantara tawa dan gelisah
namun kami berhasil melewatinya
naik bersama, turun bersama 

diantara kebahagiaan itu, 
aku mengakui kesalahan dimasalalu
aku dengan kesadaran penuh
termenung 
terdiam diantara rindangnya alas lali jiwo
jujur saja, aku malu
pada alam yang kini memelukku

aku tak ingin pergi
aku ingin menetap disini
aku ingin bersembunyi disini
tetes airmata membasahi pipi
aku tak ingin kembali.

aku bertengkar dengan pikiranku
temanku yang gondrong menepuk bahuku
membuyarkan lamunanku 
mempertanyakan keadaanku
memaksaku untuk sadar dan mengingat keluarga yang sedang menunggu 
tawa adikku seketika terlintas dikepalaku
apakah aku yakin ingin menyerahkan diriku di antara alam yang sendu?

namun, lagi dan lagi aku termenung
di keramaian kota, 
aku sendiri. 
tak ada tempat yang menerimaku
selain alam beserta isinya.
disini sungguh menenangkan 
seakan akan merangkulku dari tangisku

alam,
ia sekalipun tak pernah menghakimiku,
ia membiarkanku menangis mengakui penyesalanku
dan membiarkanku merenungi kesialan takdirku,
lalu ia membuatku tersenyum melihat keindahannya lagi dan lagi.
disana,
aku mulai berlari 
aku mulai berambisi 
disana,
aku berteman dengan iblis yang baik hati

namun, apakah kau tau hal yang lebih lucu ketimbang percobaan bunuh diriku?
aku ingin menemui anakku
entah aku bisa ataupun tidak 
setelah vonis dari dokter kandunganku 
sialnya, aku tetap ingin menemuinya,
aku mengharapkan hal yang tak jelas adanya
aku ingin memberikan nama "Arjuno" padanya
tentu ketika ia terlahir sebagai seorang pria
namun jika tidakpun tak mengapa 
aku senang melalui perjalanan ini
aku senang berkenalan dengan orang orang yang menemaniku untuk mendaki 3000 mdplku pertama kali
sembari merayakan hari dimana tepat setahun yang lalu separuh jiwaku pergi

aku bahagia 
jikalau umurku tak panjang 
aku tak akan menyesalinya
diantara alam yang sunyi 
aku membuat janji
ku pertaruhkan diantara langit mimpi
biarkanlah tulisanku abadi
dibawah mentari, aku mulai berlari.

nak, hari ini ibu memiliki ambisi
semoga kita bertemu suatu saat nanti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

“mengapa engkau tidak melonte saja (?)”

ah, jangankan melonte. aku saja jijik pada tubuhku setiap kali bercermin. ​ jujur saja, terkadang aku membenci tubuhku., lipatan lemak yang ...