Kamis, 14 Maret 2024

Tuan, yang kucinta

tuan, bagaimana kabarmu? bagaimana dengan cinta barumu?
apakah engkau mencintai nya dengan hatimu?
atau, engkau hanya bermain'' seperti engkau mempermainkan aku?

ah, aku sedikit menahan nafas untuk menanyakan hal yang sudah jelas apa jawabannya.
hati dan jemariku mulai sulit untuk merahasiakan rindu
maaf telah mengingkari janji bahwa aku akan mencintaimu dalam sepi
percayalah tuan, ternyata tak semudah itu

aku menatap langit, 
purnama terlihat indah, sembari aku mengingat kembali senyummu..
tuan, taukah engkau mengapa aku mencintaimu??

tuan, setiap kali aku bersamamu
aku bahagia
dendam ku sirna
lukaku purna
dalam sekejap, duniaku yang sepi dan suram menjadi surga

tuan, setiap kali aku bersamamu 
aku melihat cahaya, 
aku tak lagi terjebak diantara kegelapan
setiap kali kita bersama 
ku tatap wajahmu dalam dalam,
engkau begitu sempurna dan menawan

lalu di sanalah, aku mulai lancang berharap dan berdoa
aku ingin terus mencintaimu hingga aku tak mampu lagi mencari alasan untuk menghapus rasaku padamu.
dan kini, doa itu menyiksa ku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

“mengapa engkau tidak melonte saja (?)”

ah, jangankan melonte. aku saja jijik pada tubuhku setiap kali bercermin. ​ jujur saja, terkadang aku membenci tubuhku., lipatan lemak yang ...