Jumat, 29 Maret 2024

bolehkah aku berhenti?

ibu, 
aku lelah
aku lelah berkelana dan bertahan diantara kejamnya dunia
aku lelah belajar berbaur dengan kemunafikan manusia
aku lelah bangkit namun akhirnya gagal untuk kesekian kalinya 
ibu,
bolehkah aku menangis dan memeluk mu sekali saja?
malamku terasa sepi dan sunyi
hatiku terasa dingin dan mati
aku tak bahagia dan juga tak sedih
rasanya seperti asing
ibu, 
aku putus asa untuk kesekian kali
aku mencoba mengejar ketertinggalan dengan berlari
namun aku gagal lagi dan lagi
bolehkah aku berhenti?
apakah dimatamu yang murni itu, aku masih seorang pecundang sejati?
ibu,
aku ingin pergi ketempat dimana aku dapat berlari dengan leluasa 
aku ingin pergi ketempat dimana aku tertawa dan tersenyum secara bersamaan 
aku ingin pergi ketempat dimana aku tak lagi mengkhawatirkan hari hari yang akan datang,
ibu,
aku hanya ingin ketenangan diantara hari hariku yang berisik
bolehkah aku berhenti? 
bolehkah anakmu yang malang ini menyendiri diantara sunyi?

Sabtu, 23 Maret 2024

Usai.

aku bukan wanita baik
kataku, mengakhiri percakapan kita malam itu
engkau terdiam dengan tampang lesuh
dan aku, melangkahkan kaki meninggalkanmu

bukan karna tak cinta
hanya saja, engkau pantas mendapat yang lebih sempurna
aku sadar dengan segala kekurangan
dengan segala kekacauan yang ada
ku biarkan engkau merenung sendirian
mencoba menerka apa yang baru saja ku ucapkan

maaf, jika sikapku selama ini membuat mu mabuk kepayang
membuat mu merasa menemukan jalan
toh, aku sudah bilang dari awal
namun engkau tak kunjung menghindar
aku juga memiliki rasa yang sama
namun, aku ingin engkau hidup tanpa penyesalan
jujur saja aku takut, jikalau aku menerimamu Sekarang
nantinya, dimasa depan engkau akan merasa "sial"

Kamis, 14 Maret 2024

Tuan, yang kucinta

tuan, bagaimana kabarmu? bagaimana dengan cinta barumu?
apakah engkau mencintai nya dengan hatimu?
atau, engkau hanya bermain'' seperti engkau mempermainkan aku?

ah, aku sedikit menahan nafas untuk menanyakan hal yang sudah jelas apa jawabannya.
hati dan jemariku mulai sulit untuk merahasiakan rindu
maaf telah mengingkari janji bahwa aku akan mencintaimu dalam sepi
percayalah tuan, ternyata tak semudah itu

aku menatap langit, 
purnama terlihat indah, sembari aku mengingat kembali senyummu..
tuan, taukah engkau mengapa aku mencintaimu??

tuan, setiap kali aku bersamamu
aku bahagia
dendam ku sirna
lukaku purna
dalam sekejap, duniaku yang sepi dan suram menjadi surga

tuan, setiap kali aku bersamamu 
aku melihat cahaya, 
aku tak lagi terjebak diantara kegelapan
setiap kali kita bersama 
ku tatap wajahmu dalam dalam,
engkau begitu sempurna dan menawan

lalu di sanalah, aku mulai lancang berharap dan berdoa
aku ingin terus mencintaimu hingga aku tak mampu lagi mencari alasan untuk menghapus rasaku padamu.
dan kini, doa itu menyiksa ku.

Senin, 11 Maret 2024

Pemuda labil

terkadang aku marah pada diriku
aku, selalu mengangumimu
aku, selalu ingin menggapaimu
aku semakin membara dalam mencintaimu 
namun, kau terlihat semakin ragu
aku selalu berusaha dalam menggapaimu
namun sepertinya tak memungkinkan bagiku
apakah cinta tulusku kian membuntu?
mengapa engkau selalu kelabu?
aku mulai ragu dalam penantianku
bagaimana jika di ujung jalan nanti, kita tak bersatu?

tetapi, rasa rasanya semuanya akan tetap seperti ini
akan selalu menjadi kesia sia yang tak berganti
akan selalu menjadi rasa perih yang menghantui
bagaimana jika kau datang sekali lagi dan pergi sekali lagi?
apakah aku akan selamanya disini? menunggumu tuk kembali?

Kamis, 07 Maret 2024

Apakah kita akan tetap seperti ini?

Aku berkeliling Kota pada hari ini
Kota indah yang disebut kota Pahlawan
banyak gedung - gedung megah disini
dan tentunya dibarengi oleh kendaraan- kendaraan mewah
Zaman semakin maju, segala sesuatu menjadi semakin canggih
namun terlepas dari itu semua, aku agak miris melihat kemajuan dan kemegahan yang ada disini, hatiku kembali pedih..
"Mengapa?" kata pertama yang kutanyakan ketika melihat itu semua,
Mengapa? Kita Pribumi hanya berkesempatan memandangi kemegahan itu tanpa berani berharap memiliki hal tersebut?
Mengapa bukan kita yang memiliki aset aset megah nan indah itu?
Mengapa kita masih menjadi budak diatas tanah sendiri?
Apa karna dari awal kita telah tertinggal?
Apa karna adanya kelas sosial di zaman sebelum kemerdekaan yang menyebabkan ini semua?
Apa karna Pendidikan kita yang kurang mumpuni?
Atau, Apa karna latar belakang pemikiran kita yang selalu pesimis dan terjebak dalam "trauma" masalalu?

Katanya, Reformasi digunakan untuk "menyetarakan" seluruh kelas sosial
Nyatanya? Jelas berbeda.
aku menatap jauh, ku pikir sebenarnya kita sudah gagal dari awal.
dari saat pemikiran dan suara kita terkerangkeng
dari saat kita tertinggal-
namun kita selalu merasa biasa saja
kita selalu menormalisasikan hal yang sepatutnya tak terjadi dan menjadi sebuah kebiasaan
tak heran jika para petinggi kita melakukan korupsi sedemikian rupa
ohh, maaf aku salah.. bukan hanya para petinggi melainkan yang senasib-
yaa, senasib. entah proletar maupun tidak
kita sama" melakukan hal tersebut jika ada kesempatan. aku berani menjamin bahwa kurang lebih ada 7 dari 10 orang yang akan melakukan hal "menjijikan" tersebut jika diberi kesempatan. miris sekali bukan?
mereka, dengan tenang menormalisasi tindakan pengecut dan mengikutinya.
menjalar ke akar dan menjadi kerusakan bagi generasi selanjutnya.

Bagaimana bangsa ini akan maju?
bila kita saja masih menjadi budak.
yaa, budak atas pikiran kita masing- masing
budak atas segala nafsu, keserakahan, ke naifan kita.
BUDAK ATAS SEGALA RASA PESIMIS KITA.

"Negara kita terlahir prematur" kata seseorang padaku.
aku ragu untuk menyetujui hal tersebut, namun faktanya memang begitu..
Apakah itu yang menyebabkan kita selalu tertinggal?
Kita memiliki Sumber Daya Alam yang sangat berlimpah, Ada Hutan, Sawah, Gunung, Lautan, Rempah-rempah dan masih banyak lagi.
namun bagiku, itu semua merupakan kelebihan sekaligus kelemahan bangsa kita.
tanpa itu semua, apakah kita bisa lebih maju?
dan bila kita sedikit cukup atas Sumber Daya Alam yang melimpah itu,
apakah kita masih akan menjadi budak ditanah kita dan atas pikiran kita sendiri?



“mengapa engkau tidak melonte saja (?)”

ah, jangankan melonte. aku saja jijik pada tubuhku setiap kali bercermin. ​ jujur saja, terkadang aku membenci tubuhku., lipatan lemak yang ...