Kamis, 15 Februari 2024

retakku

aku memiliki perlombaan didalam hidupku, bagiku kehidupan adalah sebuah medan peperangan. aku selalu gagal, dan ketika aku bangkit aku selalu merasa tak cukup dalam semua usahaku, aku selalu merasa tertinggal dan gagal, aku selalu merasa bahwa aku adalah penyebab dari segala masalah, aku merasa tuhan tak adil dan aku pantas mati.

aku selalu bertanya pada diriku, apakah yang terpenting dalam hidup ini adalah sebuah pencapaian? mengapa aku selalu gagal? apa kurangku? mengapa aku begitu lemah? sepecundang inikah aku?

retak,
aku menemukan seluruh bagian diriku menjadi serpihan, retak tak tentu arah, selalu membandingkan dengan diluaran sana,
sial. aku tidak sempurna.
pecundang akan selalu berfikir bahwa dia kalah, dan aku adalah pecundang sejati. 
toh percuma saja bangkit jikalau kita gagal lagi? kataku pada diriku, sembari meremehkan pencapaian" yang kumiliki. 
mengapa aku selalu begini?
tuhan, mengapa engkau menciptakan hamba selemah diriku? mengapa aku begitu menjijikan?. 

dan dari semua hal yang ku benci, aku sangat membenci diriku sendiri.

Rabu, 14 Februari 2024

My 19 y'o

hari ini, ku langitkan semua doa terbaik untuk kamu. kamu yang menganggap dirimu sebagai bunga layu, kamu yang menganggap dirimu pasir di pesisir pantai yang semu. semoga dunia mu yang kelabu itu senantiasa menjadi bahagia yang tak berujung. semoga engkau selalu menemukan secercah harapan dalam jatuhmu. smoga engkau selalu bangkit dan tersenyum kembali setelah tangis laramu dan semoga engkau menemukan cinta yang memahami luka lukamu.

untuk kamu, diriku.

Minggu, 11 Februari 2024

rayuan wanita jalang (?)

tuhan,
bolehkah aku menyerah?
aku mempertaruhkan segala yang kupunya
namun, semua sia"
semua tak berguna
dan aku mulai lelah
aku lelah memiliki ambisi fana yang pada akhirnya mengecewakan ku
aku lelah memberi pembuktian terhadap penilaian orang lain

aku lelah,
aku ingin pergi ketempat dimana aku tak lagi mengkhawatirkan tentang bagaimana hari esok
aku ingin pergi ketempat dimana orang orang menerima ku tanpa penolakan
aku ingin pergi ketempat dimana aku dapat tertawa lepas dan tersenyum tenang
dan aku, ingin pergi ketempat dimana aku tak perlu lagi bersaing pada diriku maupun orang lain

aku lelah, 
berjuang dan bersaing
menerima dan mengintropeksi diri
terhadap setiap penolakan
terhadap setiap pandangan yang meremehkan
terhadap setiap pembuktian yang tak berguna
aku ingin hidup sederhana dan bahagia
aku ingin mendengar gemricik mata air dan tersenyum karena melihat mekarnya bunga dipojok desa
aku ingin hidup sembari mengajar anak kecil desa tentang indahnya sejarah, alam, dan kupu kupu yang berterbangan 
aku ingin hidup bebas tanpa kekhawatiran, kecemasan, dan takut akan kekalahan.

tuhan,
bisakah engkau sekali saja mengabulkan keinginan ku?
aku tau aku bukanlah hamba yang taat
aku tau aku bukanlah wanita suci yang bermartabat
aku tau aku hanyalah sebutir pasir ditepi laut lepas
hilang kendali tanpa tujuan
penuh dengan bau busuk yang menyengat
penuh dengan kegelapan
penuh dengan, keputus asaan
namun, bolehkah aku berharap?
setiap harinya, 
bagiku hidup adalah peperangan, 
menang dan kalah, hancur dan bertahan

sekali saja tuhan, 
bisakah engkau membantu ku naik?
bisakah engkau mengabulkan keinginan ku?
mungkinkah engkau mendengar rayuan wanita jalang seperti ku?
tolong tuhan,
tariklah aku dari dasar lorong gelap ini, 
bolehkah aku bersinar seperti gemerlap nya bintang di langit malam?

Jumat, 09 Februari 2024

kamu dan hujan

kepada hujan
sungguh, rintikan mu membuat ku rindu
pada seseorang yang pernah ku tunggu
pada lelaki yang pernah menjadikan tubuhnya tameng diantara rintikmu

kepada hujan
bisakah engkau membawaku?
ketempat dimana lelaki itu menunggu
ketempat dimana kenangan itu melekat padaku

kepada hujan
aku pernah membenci rintikan mu
namun engkau berkali kali mengguyur ku
tentu, dengan rangkaian rindu
membuat wajahku telanjang tanpa riasan 
membuat pakaianku basah dengan guyuran
membuat, hatiku menangis tanpa ketahuan
mungkinkah semua itu yg membuat ku tenang?
tanpa bahu aku hanya perlu gerimismu

“mengapa engkau tidak melonte saja (?)”

ah, jangankan melonte. aku saja jijik pada tubuhku setiap kali bercermin. ​ jujur saja, terkadang aku membenci tubuhku., lipatan lemak yang ...