Rabu, 23 April 2025

Aku adalah Aku

Sejak kecil, aku telah terbiasa berjalan sendiri. Di tengah keramaian, aku sering merasa asing, seolah tawa yang bergema tak pernah menyisakan ruang untukku. Kata orang, aku terlalu kaku, terlalu serius. Seolah kejujuran adalah sebuah kesalahan, sesuatu yang harus dibungkus rapat agar bisa diterima.

Namun aku tidak bisa menjadi seperti itu. Aku belajar untuk berkata tidak pada hal-hal yang tak mengisi jiwaku. Aku menolak menjadi dua wajah dalam satu waktu. Bagiku, hidup bukanlah panggung untuk tipu-tipu. Aku lebih memilih menjadi diriku sendiri, walau itu berarti berjalan sendirian lebih sering daripada bersama.

Ketika mereka menjauh, aku sempat bertanya dalam hati

"apakah ada yang salah dalam diriku?" Namun waktu mengajariku perlahan, bukan aku yang salah, hanya saja tidak semua orang bisa berjalan dalam arah yang sama. Tidak semua hati bisa saling memahami, dan itu tak mengapa.

Aku tahu kini, bahwa bukan tugasku untuk menyenangkan semua orang. Bukan kewajibanku untuk memenuhi ekspektasi mereka. Aku adalah aku. Aku terlahir sendiri, dan kelak pun akan mati seorang diri.

Selama aku berjalan dengan jujur dan utuh, aku tidak akan kehilangan apa-apa. Aku tidak takut kehilangan apa-apa.

Karena menjadi diriku sendiri adalah bentuk kemenangan yang paling indah. kemenangan yang mutlak. Meski mungkin, tidak semua pihak akan menyambutnya dengan baik.

Senin, 14 April 2025

Di antara retak yang tak terdengar

Ada, ada jejak yang tak berpijak, 

membekas pada lantai waktu 

dan lorong yang gelap 

aku berjalan, diantara musim dan hujan deras sebelum mekar


Mereka berkata, angin tak memiliki aroma,

 namun, aku mengingat setiap hembusannya 

pada malam malam aku kehilangan

dan, kehilangan bukanlah hal yang sederhana


ia adalah bunyi paling lirih, 

yang tak mampu ditangisi

karena airmataku pun enggan jatuh,, 

pada sesuatu yang takkan pernah kembali.


Aku duduk di sisi terang 

dikhianati bayangan, 

memandang raga di koyak luka 

ia indah, namun penuh dendam


Tak semua yang patah terlihat bengkok, 

dan tak semua yang utuh merasa lengkap.


Aku bukanlah kepergian, 

bukan pula awal dari kebaruan. 

Aku hanyalah detik 

yang memilih diam saat takdir menghantam keras.


Dan bila jiwaku memilih pergi, 

itu bukan karena aku tak ingin tinggal,

tetapi karena beberapa rumah, 

tak dibangun untuk orang yang pernah terbakar.

Selasa, 08 April 2025

sepotong ayam goreng dari ibu

Sepotong ayam goreng

terhidang tanpa kata

sebuah kasih dari tangan yang letih.

Ibuku,

dengan wajah yang dilipat usia,

dan tubuh yang menua

tanpa sempat memanjakan diri,

serta waktu yang terus mencuri tenaganya.

Ia duduk memandangi piring,

hanya nasi yang tersisa.

Lauk terakhir?

Telah mendarat di piringku,

agar esokku tak kelaparan

walau masa depanku,

masih kupandang dengan enggan.

Aku sering mengeluh lelah

terkadang aku ingin menyerah

tanpa sadar,

ada jiwa yang lebih letih dariku,

tapi tak pernah bersuara.

Ibuku tak pernah berkata apapun

walau terkadang tatapannya dingin

masih kurasakan ikatan tulus yang murni

Ia tak pernah menuntutku untuk menjadi apa

atau seperti apa

Ia hanya ingin aku menjadi anak yang baik,

dan aku,

dalam diam, merasa telah gagal

membalas segala cinta

yang ia suguhkan dalam setiap hidangan.

“mengapa engkau tidak melonte saja (?)”

ah, jangankan melonte. aku saja jijik pada tubuhku setiap kali bercermin. ​ jujur saja, terkadang aku membenci tubuhku., lipatan lemak yang ...