Sejak kecil, aku telah terbiasa berjalan sendiri. Di tengah keramaian, aku sering merasa asing, seolah tawa yang bergema tak pernah menyisakan ruang untukku. Kata orang, aku terlalu kaku, terlalu serius. Seolah kejujuran adalah sebuah kesalahan, sesuatu yang harus dibungkus rapat agar bisa diterima.
Namun aku tidak bisa menjadi seperti itu. Aku belajar untuk berkata tidak pada hal-hal yang tak mengisi jiwaku. Aku menolak menjadi dua wajah dalam satu waktu. Bagiku, hidup bukanlah panggung untuk tipu-tipu. Aku lebih memilih menjadi diriku sendiri, walau itu berarti berjalan sendirian lebih sering daripada bersama.
Ketika mereka menjauh, aku sempat bertanya dalam hati
"apakah ada yang salah dalam diriku?" Namun waktu mengajariku perlahan, bukan aku yang salah, hanya saja tidak semua orang bisa berjalan dalam arah yang sama. Tidak semua hati bisa saling memahami, dan itu tak mengapa.
Aku tahu kini, bahwa bukan tugasku untuk menyenangkan semua orang. Bukan kewajibanku untuk memenuhi ekspektasi mereka. Aku adalah aku. Aku terlahir sendiri, dan kelak pun akan mati seorang diri.
Selama aku berjalan dengan jujur dan utuh, aku tidak akan kehilangan apa-apa. Aku tidak takut kehilangan apa-apa.
Karena menjadi diriku sendiri adalah bentuk kemenangan yang paling indah. kemenangan yang mutlak. Meski mungkin, tidak semua pihak akan menyambutnya dengan baik.