dulu,
Pernah kuselami diriku dalam dalam
ku temui sosok pemburu
yang percaya bahwasanya ia seorang yang pantas dan mampu
tanpa rasa ragu, di setiap hitungan windu
akupun bertaruh
untuk memenangkan perlombaan
dalam setiap buru yang ku temu
namun, disuatu titik ketika aku terperangkap jatuh
ku dapati lubang besar dalam diriku
semakin dalam, jiwaku pergi diantara sudut kabut
lalu, ku pandangi ragaku tergeletak lesuh
ia kehilangan harapan untuk hidup.
kendati demikian,
dengan sisa sisa kepercayaanku
ku temui takdir untuk bertaruh
kukatakan padanya dengan lantang "kembalikan jiwaku"
sialnya, ia menertawakanku.,
aku mencoba bangkit dan berjalan seperti biasa
dengan sisa sisa jiwa yang telah membeku
perasaan lapar, haus, nafsu dan sifat manusiawi akan selalu ada,
mengikutiku, kemanapun
menghantuiku, dimanapun
menelanjangi tubuhku dan tertawa disaat apapun
ku coba memenjarainya dalam lubang besarku
sembari kubiarkan ragaku melenggang luas mencari damai yang ia tuju
aku kehilangan hasrat berburu,
namun aku tak menyesal akan hal itu
jiwaku tlah membeku, syukurnya ragaku tetap utuh.,
dan,
aku tak ingin lagi berburu
meski di dalam senapanku masih terdapat peluru