aku,
berdiri di sudut kota tempatmu berada,
berharap takdir mempertemukan
“kau dan aku”
kembali..
hingga sisa-sisa harapku
yang compang-camping,
menantimu di sini..
sekali,
puluhan kali,
ratusan,
hingga ribuan kali..
namun, kau tak pernah ada,
bahkan bayangmu pun enggan menampakkan diri..
menemui sorot mata wanita bodoh yang mencari kemana arahmu berlari.
sayangku,
aku tak ingin melupa bola matamu,
tak ingin melupa senyummu,
atau bagaimana kecupan itu..
jatuh perlahan, tepat di atas keningku.
namun sayangku,
di antara seluruh doa yang pernah kupanjatkan,
aku berharap agar Tuhan tak pernah mempertemukan
kau dan aku.