Di sebuah ruang remang yang ganjil, aku kembali dilanggar., sebagaimana yang lain pernah melakukannya padaku.
Aku terombang-ambing dalam ekstasi yang sarat penyesalan,
menggigit bibir sendiri, tenggelam dalam ingatan,
menahan air mata yang terlalu keras untuk dipatahkan.
Aku ingin kata "tidak" -ku didengar,
Lembut, tanpa ancaman,
karena memang itulah yang sungguh kurasakan.
Namun ia tak pernah mendengarkan.
Aku memasang tanda-tanda untuk berkata "tidak",
isyarat yang kupahatkan dengan tubuh dan ketakutan,
namun ia tak pernah melihatnya.,
matanya terukir dalam hasratnya sendiri.
Dari sana, kenangan lahir,
dan kelak menghantui hari-hariku tanpa izin.
Tiga adalah angka
di mana kami berhenti menghitung.
Kesalahan- kesalahanku
rapuh, memilukan.,
sekali terjadi, tak pernah bisa ditarik pulang.
Andai aku tahu penyesalan dan derita yang
ditinggalkan olehnya.,
namun kita memang tak pernah tahu, bukan?
Kita tak bisa meramal luka.
Tetapi bahkan tanpa tahu pun,
aku telah berkata "tidak".
Sebuah "tidak" yang tak pernah ia dengar.
Sebuah "tidak" yang tak pernah ia pedulikan.