Jumat, 01 November 2024
lelaki itu pergi tanpa aba aba
aku telanjang tanpa busana
berayun ayun dipojok istana
menanti tuan yang pergi dikala senja
dikala mentari sedang cantik cantiknya
sentuhan itu menjarah tubuhku
jantungku kaku tertunduk melesuh
kakiku lumpuh berusaha menjauh
namun jemari jemariku tetap berusaha menggapaimu
menggapai cinta yang tak pernah bersemayam dalam diriku
Langganan:
Komentar (Atom)
“mengapa engkau tidak melonte saja (?)”
ah, jangankan melonte. aku saja jijik pada tubuhku setiap kali bercermin. jujur saja, terkadang aku membenci tubuhku., lipatan lemak yang ...
-
Sejak kecil, aku telah terbiasa berjalan sendiri. Di tengah keramaian, aku sering merasa asing, seolah tawa yang bergema tak pernah menyisak...
-
Ada tempat yang tak lagi kusebut, namanya tersimpan di antara angin, di mana ranting berbicara pelan dan dedaunan menunduk seperti paham. La...
-
Tuhan, semua berlarian ke arah-Mu menyebut nama-Mu dalam tangis, dalam harap, dalam tunduk yang kadang tak mereka mengerti. Namun aku, aku m...