Ketika aku mulai mencari makna kehidupan, sesuatu yang dahulu kuanggap suci dan abadi, aku malah kehilangan kemampuan untuk sekadar hidup. Bukan hanya sekadar bernafas atau berjalan, tapi hidup, dalam artinya yang paling sederhana, yang paling manusiawi. Kini aku bahkan tak tahu bagaimana caranya kembali ke sana.
Cermin di hadapanku bukan lagi benda yang memantulkan bayang, tapi luka yang memantulkan kepatahan. Dulu aku bisa menatap diriku dengan iba, lalu menenangkan hati yang retak dengan kalimat-kalimat lembut “tak apa, semua akan baik-baik saja.” Tapi sekarang, kata-kata itu terasa konyol. Tertawa getir di antara air mata yang sudah basi. Aku tak bisa menenangkan diriku sendiri lagi. Yang kulihat di sana hanya seorang perempuan bodoh, yang terus berharap pada sesuatu yang tak pernah datang, yang terus menunggu arti dari sesuatu yang barangkali memang tidak punya arti sama sekali.
Pernah, aku mencoba menikmati hidup, menertawakan video lucu, bercanda dengan seumuranku, menangisi kisah cinta yang perih, menikmati getir yang menyentuh, dan lain lain. Namun semua itu kini hanya permainan kosong, lampuku padam, dan panggungku sunyi. Tak ada lagi yang menghiburku. aku melihat naga dan tikus-tikus lapar sedang menggerogoti sesuatu yang dulu kupanggil harapanku.
Mungkin aku memang salah memahami segalanya. Mungkin hidup ini memang tidak pernah punya makna. Tapi betapa menyakitkan ketika menyadari itu sepenuhnya, bukan sekadar sebagai gagasan, tapi sebagai kenyataan yang membungkam. Rasanya seperti menelan debu dari reruntuhan diriku sendiri. Aku tahu, ini mungkin adalah nasibku. Tapi aku tidak bisa berdamai dengannya. Aku tidak bisa memuaskan diriku sendiri dengan kepasrahan yang kering.
Andai aku seperti seorang pria yang hidup di hutan, ia tahu tak ada jalan keluar, maka ia duduk, menerima, dan menunggu kematian datang seperti kabut yang lembut. Tapi aku bukan dia. Aku ini wanita yang tersesat di hutan yang sama, berlari dengan kaki yang berdarah, panik mencari jalan pulang yang tak pernah ada. Setiap langkah yang kuambil justru menjerumuskanku makin dalam, makin gelap, makin asing. Dan aku tahu aku tersesat, tapi aku tak bisa berhenti berlari. Karena yang lebih menakutkan dari tersesat adalah berhenti dan mendengar sunyi menelanku bulat-bulat.
Kengerian itu… oh Tuhan, kengerian itu lebih besar dari apapun. Ia hidup di dalam dadaku, berdenyut bersama nadi, menjerat leherku dengan tali yang tak kasat mata. Aku takut pada masa depan, tapi aku juga takut pada sekarang. Aku takut pada hidup, tapi aku juga takut pada mati. Dan di antara dua ketakutan itu, aku menggantung,. menggantung dengan getir di lidah dan simpul tali di kepala.
Kadang aku berpikir, mungkin di dalam hatiku ada kapal kecil yang menunggu badai terakhirnya. Ia tahu, entah ia akan pecah, atau laut yang akan tenang. Tapi aku tak bisa sabar menunggu akhir itu. Aku ingin menghempaskan diriku ke laut agar semua usai. Agar kegelapan berhenti menatapku. Agar aku bebas. Bebas dengan cara yang paling sunyi, dengan tali yang menegang, atau peluru yang memecah sunyi. Begitulah keinginan untuk membunuh diriku sendiri itu muncul, dari kelelahan yang terlalu dalam. (aku tahu benar, setiap orang memiliki bebannya masing - masing)
Namun di sela tangisanku yang terputus-putus, aku masih mencoba memahami. Mungkin… mungkin aku telah melewatkan sesuatu. Mungkin aku salah mengerti sesuatu. Karena tak mungkin, bukan? Tak mungkin kondisi yang seputus asa ini wajar bagi seorang wanita muda (umurku baru dua puluh, namun aku merasa telah tertinggal jauh.) Tak mungkin dunia begitu kosong sampai aku harus kehilangan makna hanya untuk tetap hidup.
Lalu aku mencari. Aku mencari penjelasan. Aku menggali dalam buku-buku, dalam teori, dalam kata-kata para filsuf, aku tenggelam. Tapi yang kutemukan hanyalah gema., gema dari pikiranku sendiri yang kembali memantul “Tidak ada.” Aku mencari, terus mencari, karena ada rasa sakit yang tak tertahankan. Aku mencari seperti seorang wanita yang binasa, memohon keselamatan dalam kegelapan yang tak berujung.
Dan ketika aku tak menemukan apa pun, aku mengerti.
Bahwa tak ada keselamatan bagi orang yang telah kehilangan makna.
Bahwa tak ada doa yang cukup kuat untuk menarikku kembali dari jurang ini.
Yang tersisa hanyalah deru nafas, yang semakin lama samakin pelan., dan bahkan itu pun kini terasa seperti beban.